Uncategorized

Twivortiare (2019) Review

Hi all! ♡
Hari ni aku mau review salah satu film Indonesia terbaru nih, yaitu Twivortiare yang diangkat dari novel Ika Natassa yang berjudul sama.

My review for this movie :
Cerita : 8 | Penokohan : 9 | Visual : 9 | Sound Effect / Scoring : 9 | Penyutradaraan : 8 | Nilai Akhir: 8.5 / 10

Dua tahun setelah menikah lewat cinta pada pandangan pertama dan hubungan yang terjalin dalam hitungan bulan, bankir sukses Alexandra Rhea (Raihaanun) dan Beno (Reza Rahadian), dokter spesialis jantung yang kelewat sibuk, memutuskan bercerai karena pertengkaran tak berujung dipicu oleh kesibukan dan ego mereka. Wina (Anggika Bolsterli), menyebutnya sebagai pasangan yang tak pernah serius berpisah, karena tautan berbagai peristiwa senantiasa mempertemukan mereka. 

Ayah dan ibu Alexandra menyesali perceraian ini. Begitu pula Papa dan Mama Beno. Sejak cerai, Beno sibuk di rumah sakit sementara Alex didekati Denny (Denny Sumargo) yang berusaha mengisi hatinya. Dengan Denny, Alex sayang tapi belum cinta. Karena di satu sisi, tapi tetap saja, kuatnya rasa cinta yang dipaksa untuk mati, malah makin bersemi. Mereka pun bersatu lagi.

Masih saling cinta, Beno dan Alexandra menikah lagi. Langkah ini didukung sahabat mereka, Wina dan Riza. Kali ini, dalam pernikahan kedua mereka, Alex dan Beno benar-benar kembali diuji untuk bertahan bukan hanya di tengah keinginan dan miskomunikasi, tapi sejauh mana cinta mereka bisa mengalahkan segalanya. Bersama pernikahan ini, Beno dan Alex berjanji, akan menjalani pernikahan kedua dengan sikap lebih dewasa, saling mengerti dan mau mengalah. Mereka yakin, mereka bisa, karena masih saling cinta. Tapi apakah benar, cinta saja cukup? atau yang mereka rasakan itu… bukanlah cinta?

Unsur paling penting dari sebuah drama romance adalah chemistry antar karakter dalam sebuah hubungan. Selagi Alim Sudio sebagai penulis naskah yang bertugas memindahkan novel serta karakterisasi dunia maya Ika ke medium film memang berhasil menangkap esensinya meski berputar di konflik yang sekilas terlihat simple namun punya kedekatan representasi ke banyak orang, terutama yang kebetulan menjalani profesinya, Reza Rahadian dan Raihaanun-lah yang muncul paling bersinar mewujudkan visual dan aspek-aspek pendampingnya.

Memerankan Beno yang juga punya akun fiktif dan dibangun dengan isi tweet serba canggung, jarang dan sepotong-sepotong, Reza – aktor bunglon ini memang masuk secara berbeda dengan karakter-karakter yang pernah ia perankan sebelumnya. Sementara Raihaanun adalah suatu kejelian tak biasa dari tim casting (termasuk Ika sendiri) atas talenta terbaik industri ini, namun mungkin tak bisa berkembang kala terus-menerus diasah di ranah arthouse memerankan karakter-karakter marjinal baik di film pendek maupun panjang setelah debut meyakinkannya di remake Badai Pasti Berlalu (2007) dan akting cemerlangnya di 27 Steps of May (2018). Sebagai Alex, bankir sukses yang penuh semangat mengejar karir, Raihaanun berdiri di atas polesan serba glamor tapi bukan berarti kehilangan sisi humanisme dalam memerankan karakternya.

Bersama Reza, ia benar-benar menyatu, hidup dengan gestur, ekspresi bahkan intonasi pengucapan dialog saling mengisi di atas penataan akting luar biasa sekaligus jadi salah satu perwujudan usaha penciptaan pasangan layar lebar terbaik yang pernah ada di film Indonesia. Membuat kita, sebagai pemirsanya, merasakan kedekatan begitu intim serta membumi seolah menjalani kisah kita atau orang-orang terdekat sendiri. Tak bisa dipungkiri juga, proses penceritaan yang terbangun di atas tautan sempurna – tak mungkin tak membuat jatuh cinta itu, juga datang dari penyutradaraan Benni Setiawan, kali ini melampaui pencapaian dua karya terbaik di tengah naik turun karirnya; dalam Toba Dreams ataupun 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta.

Begitu pula, kekuatan dialog dan quote baper ala Ika yang berhasil diadopsi Alim tanpa terasa berlebihan dalam 103 menit durasi film yang membuat kita terhanyut hingga benar-benar meledak di penghujungnya kala lagu tema dari Glenn Fredly, ‘Kembali ke Awal’ menghujam rasa di momentum yang luar biasa tepat. Semua aspek-aspek ini begitu berhasil menyajikan naik turun hubungan Alex dan Beno, konflik-konflik yang bisa sewaktu-waktu memuncak oleh ego dan tuntutan atas nama cinta tanpa sekalipun terasa mengada-ada, dari soal kesibukan dan miskomunikasi, soal merencanakan keturunan, kecemburuan bahkan tuntunan keluarga kedua belah pihak sebagai anak tunggal. Alim dan Benni juga tak lupa memasukkan unsur penting tentang mengapa Twivortiare dipilih menjadi judul uniknya lewat tampilan akun Twitter karakternya secara taktis tanpa harus mendominasi medium audio-visual konvensional yang lebih universal.

Dan bagusnya, Alim dan Benni berada dalam sinergi yang pas untuk tak terus memicu konfliknya secara berlebih tetapi sesekali menghadirkan belokan-belokan yang meneduhkan bak sebuah wahana rasa di mana kita bisa merasa gemas, terharu hingga trenyuh, juga celetukan komikal dari pemeran pendukungnya yang diperankan baik sekali oleh Dimas Aditya sebagai Riza, Boris Bokir sebagai Ryan, dan Anggika Bolsterli sebagai Wina. Aktor-aktor pendamping lainnya seperti Ferry Salim, Denny Sumargo, Citra Kirana dan Arifin Putra yang dimunculkan sebagai faktor pemicu konfliknya pun tetap diberi ruang cukup, juga bintang-bintang seniornya; Aida Nurmala, Roy Marten, serta Dwi Yan dan Lydia Kandou.

Latar tempat yang diambil dalam film ini adalah kehidupan modern Jakarta. Jadi secara visual, nggak ada yang spesial. Hanya panorama kota Jakarta dengan sedikit sentuhan efek retro di beberapa bagian.

Sementara, hal itu berhasil dibungkam dengan scoring-nya yang berhasil membangun suasana film Twivortiare. Kalian akan merasa ikutan sedih, apalagi pas bagian saat Alex bertengkar dengan Beno, lalu Alex memilih pulang ke apartemen. Latar musik Tya Subiaktokali ini tampil minimalis dengan dominasi dentingan piano untuk scoring-nya, menggunakan penggalan-penggalan lagu tema ‘Kembali ke Awal’ yang dinyanyikan oleh Glenn.

Pada akhirnya, Twivortiare bukan saja berhasil memanfaatkan materi romansa dewasanya dengan maksimal, juga menjadi salah satu kiprah terbaik masing-masing kru inti serta pemainnya terutama Reza dan Raihaanun; Alim dan Benni, juga merupakan adaptasi terbaik dari novel karya Ika Natassa.

Namun di atas semuanya, dengan eskalasi romansa yang terbangun sebaik itu, ia memang bisa menggugah rasa buat kita, sebagai pemirsanya, untuk benar-benar masuk dan memberikan hati dan keberpihakan kita untuk hubungan Alex dan Beno sekaligus berkaca. Like a match made in heaven, Twivortiare adalah pengingat sederhana namun luar biasa manisnya buat semua hati yang menolak menyerah di luar sana, agar terus belajar dan selalu bisa kembali ke awal untuk memaknai ulang sebuah rasa bernama cinta.

With love,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.