Opinion

Bullying dan Dampaknya bagi Generasi Muda Indonesia.

Hi all! ♡
Sudah seminggu terakhir, timeline social media aku memanas. sebenernya udah lama sih, tapi lama-lama aku jadi kesel sendiri baca dan pantau beritanya, baik di social media maupun di news websites. Aku hanya ingin mencoba purely thinking, memandang issue yang sebenarnya sudah lama ada di dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ya, apalagi kalau bukan bullying?

2 berita bullying yang menjadi viral selama seminggu terakhir ini adalah bullying di Universitas Gunadarma dan kasus bullying anak SMP di mall Thamrin City yang ternyata adalah siswa-siswi dari SMPN 273. untuk berita bullying di gunadarma, kalian bisa baca di sini dan untuk bullying di Thamrin City, kalian bisa baca di sini.

Kedua kasus bullying ini seolah membuka mata publik bahwa yang namanya tindakan bullying, masih sering terlihat, terutama dalam dunia pendidikan. anak SD, SMP, SMA, bahkan yang sudah kuliah sekalipun, tetap bisa menjadi korban bullying. Apalagi, yang menjadi korban bullying, terutama di Universitas Gunadarma, itu adalah mahasiswa berkebutuhan khusus. Apalagi, setelah aku amati beberapa kasus bullying yang pernah viral, biasanya yang menjadi korban adalah mereka yang berbeda dari teman-temannya. Jujur saja, aku gak mengerti dengan semua kasus bullying yang terjadi. kenapa justru mereka yang berbeda yang rentan menjadi korban bully? sudah tidak bekerja-kah hati nurani anak muda kekinian? Duh. miris ngeliat fenomena bullying yang makin merajalela, terutama dalam pendidikan.

Padahal bullying itu dampaknya besar, terutama untuk korbannya. Salah satu kasus bullying paling fenomenal adalah kasus Amanda Todd. Mungkin, Amanda Todd tidak harus meninggal di usia 15 tahun kalau saja dia tidak depresi akibat dibully secara fisik maupun online. Karena, bullying, apapun bentuknya, tetap saja bullying, dan punya dampak yang gak bisa dibilang ringan untuk korbannya. karena banyak korban bullying yang menjadi rendah diri, trauma, dan gak sedikit yang kemudian mengalami depresi berat sampai akhirnya memutuskan untuk bunuh diri lantaran depresi akibat bullying yang diterimanya.

Aku sendiri pernah mengalaminya. ya, aku pernah menjadi korban bully pada saat masih SMP. Aku dibully karena aku berbeda dari yang lain, aku introvert, kurang bisa bersosialisasi, dan sukanya baca komik dan nonton anime. bullying yang aku alami saat itu adalah social bullying, dan praktis aku gak punya teman, dan I ended up ngerjain semua group project sendirian. Sering aku mencoba ngomong sama guru-guruku waktu SMP, cuma ga ada yang peduli dan menganggap remeh bullying yang aku alami. saat itu, yang bisa mengerti ya cuma mamaku.  beruntung, pas kelas 9,  aku yang saat itu sudah mulai stres akibat bullying, ada guru wali kelasku yang men-support dan menguatkan aku agar bisa bertahan dari bullying yang aku alami sampai lulus SMP. setelah lulus SMP, aku memutuskan untuk pindah sekolah ke SMA Abdi Siswa. dan di SMA-ku inilah, aku baru bisa merasakan enaknya punya teman, dan lingkungan sekolah yang ga ada bullying.  teman – teman SMA-ku inilah yang  menjadi teman-teman dekatku.  Dan teman-teman, inget gak? aku pernah bilang di post aku yang ini kalau aku sekarang menjadi lebih introvert dan canggung. dan salah satu ketakutanku adalah kalau orang lain tidak nyaman akan kehadiranku. dan itu semua  ada akibat trauma akibat bullying yang kualami dulu. tapi, sekarang.. aku memilih untuk moving on dari trauma, dan optimis menatap masa depan.

Nah, guys… sebagai generasi muda, kalau kita melihat adanya bullying di sekitar kita, jangan cuma diam dan nonton aja, alias jadi bystander. Bystander adalah mereka yang mengetahui dan melihat terjadinya tindakan bullying, tapi diam dan gak melakukan apa-apa. Karena bullying akan terus merajalela jika nggak ada yang speak up.Bystander juga adalah peran penting dalam usaha memutus lingkaran bullying. karena yang dicari oleh pelaku bullying itu sebenarnya perhatisn orang di sekitarnya, dan kalau yang nonton diam saja, maka itu juga akan membuat bullying yang terjadi semakin menjadi-jadi, karena pelaku merasa mendapatkan perhatian.  jadi, jangan diam saja jika kita ngeliat adanya tindakan bullying di sekitar kita, laporkan saja pada orang dewasa di sekitar kita supaya bullying tidak terus terjadi. Kalau merujuk ke kasus bullying di Gunadarma, terlihat dari video yang beredar kalau banyak bystanders yang juga ikut menertawakan korban bullying, seolah-olah mereka mendukung perbuatan pelaku. padahal, kalau mau, mereka kan bisa berbuat sesuatu untuk menghentikan bullying yang terjadi. tapi kenyataannya apa? mereka bukannya membela tapi malah ikut menertawakan. Bystander yang hanya diam bahkan ikut menertawakan itulah yang membuat bullying semakin menjadi-jadi karena pelaku merasa mendapat perhatian akibat perbuatannya, sehingga usaha untuk memutus mata rantai kasus bullying, terutama di Indonesia menjadi semakin sulit.

Kalau generasi mudanya suka membully atau membiarkan bullying terus terjadi, bagaimana dengan masa depan Indonesia? apa kita mau, kalau generasi muda kita menjadi generasi yang suka menindas dan mendiskriminasikan orang lain? Masa sih, kita mau dunia pendidikan kita begini-begini aja dengan 1001 masalah? pastinya, kita ingin dong, memajukan dunia pendidikan Indonesia supaya negara kita gak tertinggal dari negara lain dari segi sumber daya manusia (SDM)-nya?
Yuk, kita aktif melawan bullying, agar dunia pendidikan Indonesia bisa maju tanpa adanya bullying dan diskriminasi. Karena masa depan Indonesia, masa depan pendidikan kita, ada di tangan kita sebagai generasi muda. setuju?

From your bullying survivor,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s