Opinion

Respect, Cyberbullying, dan Hate Speech di Social Media yang Sering Terlupakan.

Hai guys.
apa kabar?

Hari ini aku mau ngomongin sesuatu nih. tentang perilaku masyarakat Indonesia di internet, terutama di social media. Mengenai respect, cyberbullying dan hate speech yang semakin lama semakin merajalela di social media tanpa bisa terkontrol.

Seperti yang kalian tau, menjadi perempuan di social media itu susah. At some point you will realize that you don’t get the respect you should have had, not just as a woman but as a human being. Terutama respect dari lawan jenis.

I knew, in (most of) social media it’s all about your appearance. Entah itu perempuan atau laki-laki, yang pertama dilihat ketika ketemu suatu account di platform social media apapun adalah muka dan penampilan. kalau jelek ya gak dipeduliin, tapi kalau kalian cantik atau ganteng pasti akan lebih diperhatikan. betul nggak?

Tapi, jangan sampai mindset orang Indonesia berubah menjadi seperti mindset orang Korea Selatan, dimana mindset mereka, adalah operasi plastik wajar untuk dilakukan. bahkan kalau orangtua memberi izin operasi plastik untuk anaknya yang baru lulus sekolah, semata-mata as a graduation gift juga dianggap wajar. mindset kayak gitu, menurutku rusak. kenapa? karena disana social pressure-nya gede, and people are constantly judging each other’s looks. mereka terlalu takut di-judge ‘jelek’ karena penampilan fisik yang ‘sempurna’ bisa dibilang jadi segala-galanya di Korea, sehingga sangat menentukan kesuksesan dalam hidup. Jadi kalau ada warga Korea yang nggak memenuhi standar cantik atau cakep mereka, bersiaplah mengalami body shaming atau bullying habis-habisan. Body shaming (tindakan menghina fisik baik wajah, bentuk tubuh, warna kulit, jenis rambut atau apa pun dari seseorang dan diri sendiri) dianggap hal yang wajar. Bahkan banyak cewek di sana yang enggak berani keluar rumah atau ketemu orang lain (kecuali keluarga) kalau enggak pakai makeup. Mereka jadi merasa sangat nggak PD untuk memperlihatkan wajah asli mereka bahkan bisa marah kalau ada yang memaksa. Memakai makeup dan tampil trendy pun jadi suatu keharusan bagi cewek agar bisa merasa lebih diterima oleh lingkungan pergaulannya baik di sekolah atau pun di lingkungan pekerjaan. Hal ini sebenarnya berlaku bagi cewek dan cowok, tapi bagi cewek, jadinya lebih frontal karena cewek pasti mengalami judgement yang lebih keras daripada cowok untuk masalah fisik. Saat kamu cantik, kamu akan lebih disukai oleh orang-orang di sekitarmu. Lebih gampang dapat teman dan tentunya dapat pacar. Bahkan untuk urusan pekerjaan pun, orang Korea sangat melihat fisik. Cewek yang cantik akan cenderung lebih mudah dapat pekerjaan daripada yang penampilan fisiknya dinilai nggak memenuhi standar cantik ala Korea. Walaupun, mungkin mereka berdua punya kualitas pengalaman atau prestasi akademik yang sama. Semua ini terjadi akibat standar kecantikan yang begitu ekstrim disana. Kita di Indonesia, untungnya nggak sampai seperti itu, tapi kita harus mencegah agar Indonesia tidak menjadi seperti itu. Ya kan?

And that example I gave leads to what’s have been around this past hundred years: cewek-cewek yang “attractive” mendapatkan perhatian dan privilege lebih banyak dibanding cewek yang “less attractive”. I’m asking you guys, what’s up with your unhealthy obsession with looks and appearance? Dan kenapa harus cewek yang di-judge hanya dari fisik dan penampilannya? That’s the first problem I have with our culture. Why does our society put looks on top of everything? Why do we care so much about looks and appearance? Menurutku, cewek itu seharusnya nggak dinilai dari penampilannya aja, tapi juga dari pemikirannya, isi hatinya, kontribusinya bagi masyarakat, dll.

My biggest problem in social media is guys. the problem is with how they treated me in ask.fm (not all of them obviously), but at some point it was really disgusting and made me angry. dulu, sekitar tahun 2011, waktu aku masih aktif pakai ask.fm, seringkali aku dapet question- question yang seperti “mau jadi pacar gue ngga?”, “jangan cantik-cantik dong, ntar gue jadi sayang”, “besok weekend nih, jalan sama gue mau nggak?”, “udah punya pacar belum?”, “lo jadi cewek kok jual mahal amat?” dan masih banyak lagi question di wall ask.fm-ku yang made me not only angry, but also disgusted. pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus datang di wall ask.fm -ku, dan sampai suatu titik, aku merasa gak nyaman lagi dengan all that disgusting questions and i thought that I’ve had enough, and I decided to deactivate my ask.fm account, permanently on January 2015. Kenapa? karena bagiku, perbuatan seperti itu sudah merupakan disrespectful act in social media. Dan aku memilih untuk menghindari orang-orang yang gak respect sama orang lain di social media. apalagi dulu account social media-ku juga dipantau mamaku, and I showed my mom the questions I got on ask.fm. and when I told her kalo aku sudah gak nyaman dan mau menutup accountku permanently, mamaku juga sangat mendukung. Karena aku aja yang dapet question – question seperti itu merasa disgusted, apalagi mamaku, yang tahu anaknya di-stalk sama cowok-cowok gajelas di social media? Jelaslah merasa sedih dan disgusted. Jadi daripada terus-terusan berlanjut lebih baik untukku menutup account ask.fm-ku.

So what do we have to do now, ladies? Apakah sebagai cewek, kita nggak boleh putting ourself out there and be the center of attention? Nggak boleh jadi diri kita sendiri? Honestly speaking, I don’t know the exact answer. Mungkin memang lebih baik cewek nggak usah vokal meyuarakan pemikiran dan pendapatnya, sebelum semua cowok mengerti untuk menghargai cewek nggak hanya dari penampilannya, tapi dari isi hati, perilaku, kontribusi dan kecerdasannya. Don’t get me wrong, banyak kok cowok yang memperlakukan cewek di sekelilingnya (whether it’s in real world and in social media) dengan sopan dan menghargai mereka tapi banyak juga yang nggak. these disrespectful acts di social media emerges karena adanya konsep anonymity (nggak ada tatap muka dan pertemuan langsung dengan korban) di social media (terutama di ask.fm), sehingga membuat orang lebih berani untuk melakukan disrespectful act tersebut.

Bagiku, there has to be boundary in everything. batasan itu penting. whether it’s on the real world or social media, it’s really important dan sedihnya, banyak dari masyarakat dan netizen Indonesia yg belum (atau tidak?) menyadari dan memahami batasan dalam ber-etika di internet, terutama di social media. Pantas saja, netizen banyak yang disrespectful dan mudah membully seseorang di internet, terutama di social media dan juga menyebarkan hate speech.

Aside from those respect issues dari lawan jenis, another thing yang mau aku highlight tentang perilaku masyarakat kita di internet adalah maraknya cyberbullying, terutama di social media. seperti yang aku bilang di atas, there has to be boundary in everything. semua ada batasnya. dan yang left me completely speechless, banyak remaja zaman sekarang (dan juga netizen) yang terang-terangan mem-bully seseorang di social media, kebanyakan adalah mencela dengan kata-kata kasar yang tidak sepantasnya dilontarkan, dan juga menyebar hate speech yang semakin lama semakin merajalela di social media tanpa bisa terkontrol. and this is the second and the biggest problem that I had with our culture. kenapa dengan bertambahnya jumlah pengguna internet, semakin banyak pula netizen yang mudah melampiaskan kata-kata kasar yang tidak sepantasnya di social media? Apakah dengan mereka mengetikkan kata-kata kasar, terutama di comment social media itu akan membuat mereka menjadi lebih baik daripada yang mereka bully? apakah dengan era social media seperti ini membuat mereka menjadi berhak untuk menghina dan menghakimi orang lain? apakah dengan membully mereka mendapatkan keuntungan? Pada kenyataannya, tidak. tidak sama sekali.

Lantas, kenapa cyberbullying bisa terjadi? Menurut psikolog Irna Minauli dari Minauli Consulting, cyberbullying seringkali terjadi ketika ada seseorang yang memperlihatkan perilaku tertentu yang kemudian memancing reaksi banyak orang, karena mereka mengangap perilaku tersebut nggak pantas dilakukan, kemudian dibully ramai-ramai. Cyberbullying juga bisa terjadi saat seseorang melakukan kesalahan di social media, kemudian menjadi viral dan berakhir dengan dibully oleh netizen. Bahkan, Joseph Grenny, seorang peneliti sosial, yang pernah membuat sebuat penelitian anatara manusia dan dunia online di Amerika, mengatakan bahwa “Sayangnya, tata krama dan sopan santun belum bisa mengejar kemajuan teknologi yang berkembang begitu pesat.” Jadi sebagai citizen, kita selalu berpikir dua kali saat mau menghina, mengejek atau menghakimi seseorang. Tapi sebagai netizen, kita enggak pernah berpikir panjang untuk melakukan itu. Kenapa? Karena korban nggak bisa melihat kita, juga nggak ada pertemuan langsung dengan korban. Inilah yang disebut dengan konsep anonymity di social media.

Berikut adalah data dan infografis yang aku kumpulkan tentang cyberbullying :

Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) baru-baru ini yang dikutip dari Metrotvnews.com (2016), seseorang yang mendapat bullying di social media berupa ejekan (52 persen), fitnah (30,3 persen), kejelekannya tersebar (9,6 persen), dan dikirimi materi porno (sekitar 3 persen).

1493454851_pengguna-internet-di-indonesia1493456630_jenis-cyberbullying1493456503_cyberbullying-di-indonesia
sumber : http://cewekbanget.grid.id/

Contoh dari cyberbullying ada banyak, salah satunya, kasus bullying yang menimpa Amanda Todd. Gadis ini bunuh diri pada tahun 2012 lalu akibat bullying yang diterimanya, apalagi Amanda gak cuma dibully secara fisik aja, tapi juga mendapat cyberbullying. sehingga akhirnya Amanda nekat bunuh diri di rumahnya di British Columbia, Kanada. Dan dua kasus cyberbullying yang belum lama terjadi dan sempat menjadi viral di kalangan netizen Indonesia adalah kasus cyberbullying yang menimpa Cinta Kuya yang dibully dan diancam disakiti terkait informasi hoax pembagian tiket konser BTS (lengkapnya bisa dibaca di sini), dan juga kasus mahasiswi yang dibully netizen karena salah berkomentar tentang proses kehamilan sampai stres. (lengkapnya bisa dibaca di sini)

Akibat dari cyberbullying juga fatal, bahkan lebih fatal daripada bullying fisik. Dan menurut psikolog, gak sedikit dari korban cyberbullying yang akhirnya stres, mengidap anxiety (gangguan kecemasan) yang bisa berkembang menjadi depresi berat dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Dan dari infografis dan contoh yang aku kasih di atas, masih banyak yang belum menyadari fatalnya akibat dari cyberbullying.

Menurutku, daripada saling mencela dan menjelekkan satu sama lain, apalagi di social media, lebih baik kalau kita saling menghormati dan menghargai. Kita seharusnya menyebarkan kebaikan, daripada saling mencela dan menjatuhkan dengan kata-kata kasar. Dengan kita semua saling menghormati, saling menghargai, toleransi dan menyebarkan kebaikan satu sama lain, I believe we can create a better Indonesia and a better world. oleh karena itu, kita harus belajar untuk menjadi netizen yang baik, dan menghentikan aksi cyberbully. Jadi kita sebagai netizen harus bisa belajar untuk bersikap lebih bijaksana dalam menilai perilaku seseorang akan jauh lebih baik daripada langsung ikut-ikutan mem-bully-nya, hanya karena kasusnya sedang viral, dan juga belajar untuk menahan diri untuk berkomentar dengan kata-kata kasar.

Dengan bertambahnya jumlah social media users, it’s easier for hate speech and intolerance to emerge in social media. apalagi sejak pemilu 2014 lalu, dan makin menjadi-jadi saat pilkada DKI kemarin. tetapi, ternyata hate speech dan intoleransi juga masih ada sampai sekarang, ga cuma di social media tapi juga dunia nyata. melihat kenyataan yang terjadi, the questions that popped into my mind was “kenapa soal SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan) dipermasalahkan sampai sebegitunya? bahkan bagaimana bisa mereka dengan mudahnya mengatakan sesamanya sebagai kafir yang nantinya akan masuk neraka? apa hak mereka untuk menilai kafir atau tidaknya seseorang?

Seperti yang aku pernah bilang disini, orang banyak yang lupa akan esensi agama yang sebenarnya. Bukan cuma itu aja, isu SARA yang dimainkan selama pilkada kemarin, ditambah dengan banyaknya orang yang terjebak hoax dan termakan isu intoleransi di social media, juga diperparah dengan banyaknya netizen yang asal share informasi tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dulu,hal inilah yang menjadi celah untuk masuknya kaum extremist dan intoleran untuk memecah-belah persatuan bangsa kita.

Mungkin soal hate speech dan intoleransi ini udah banyak yang memberikan pendapatnya. bahkan ada juga yang berpendapat dengan menyamakan semua agama. Menurutku, ini adalah sebuah pandangan yang salah kaprah. ajaran semua agama tidak ada yang sama, walaupun intinya tetap mengajarkan kebaikan. aku akan mencoba menjelaskan ini dengan sudut pandang ajaran Katolik. Banyak orang yang masih suka salah kaprah tentang agama Kristen dan Katolik dengan menganggap kalau Kristen dan Katolik itu sama. padahal ditinjau dari ajarannya, ajaran agama Kristen dan Katolik itu berbeda, baik dari tatacara misa di gereja, penerimaan sakramen (dalam kristen hanya ada 2 sakramen yaitu baptis dan tobat, sementara Katolik ada 7 : baptis, ekaristi, tobat, krisma, imamat, perkawinan dan pengurapan orang sakit.)
Selain itu, kami yang katolik juga berdoa dan ada penghormatan secara khusus kepada Bunda Maria (kalau kristen hanya sebatas menghormati Bunda Maria, tapi tidak berdoa secara khusus kepada Bunda Maria), dan masih banyak lagi. See? bahkan dua agama yang sama-sama percaya kepada Tuhan Yesus pun bisa memiliki ajaran yang berbeda. apalagi agama lain? Tapi aku percaya, walaupun ajaran setiap agama itu berbeda, tetapi intinya agama mengajarkan kebaikan. agama adalah tuntunan dalam bersikap dan berakhlak. menurutku, jika agama dijadikan pedoman dalam bersikap, berakhlak dan berperilaku dalam kehidupan sehari – hari, tidak hanya di dunia nyata tapi juga di social media, terus jika masyarakat kita bisa memelihara dan menjalankan toleransi antar umat beragama yang terjaga dengan baik, maka gak akan ada celah untuk kaum extremist dan intoleran untuk memecah-belah dan mengadu domba antar umat beragama.

So, guys, yuk kita gunakan social media dengan lebih bijak, dan bersama menebar kebaikan!

Salam sayang,

Advertisements

4 thoughts on “Respect, Cyberbullying, dan Hate Speech di Social Media yang Sering Terlupakan.

  1. aku setuju sama pendapat kaka di tulisan ini. karena memang di masyarakat kita, memang orang biasanya dinilai dari penampilannya dulu, meskipun ga semuanya begitu sih. dan masih banyak yg melupakan tata krama dan sopan santun dalam bersosialisasi di social media, ada sesuatu yg viral, pasti ikut-ikutan ngebully deh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s