Opinion

Terbuka.

Hai guys… apa kabar?
Okay, kalian pasti udah pada tau kan, kalau aku kuliah disini, di Melbourne? Hari ini aku mau cerita sepenggal perjalananku di Melbourne nih.. mngkin post kali ini bakal beda sama post aku sebelumnya.

Awalnya, tinggal di negara sekuler seperti Australia gak mudah. bukan cuma soal adaptasi sama kehidupan disini aja, tapi juga adaptasi sama  kehidupan beragama disini yang beda banget sama di Indonesia. Jujur aja, awalnya disini aku bahkan gak tau gereja Katolik dimana lokasinya. terus berkat temenku yang ngajak ke Misa Mudika April 2016, aku jadi tau lokasi gereja plus aku bergabung dengan mudika Melbourne di team choirnya, sampai sekarang.

Aku mau cerita nih, minggu lalu aku menghadiri Misa Mudika di Gereja St. Francis, gerejaku disini. Misa yang kuhadiri adalah misa yang sepenuhnya di-organize oleh Mudika Melbourne. Setelah misa selesai, kita ada acara makan-makan. setelah aku menghabiskan makananku, aku dan salah satu temanku, Karin, terlibat pembicaraan menarik dengan pastor yang membawakan misa kami kali ini. Mengenai perbedaan dalam kehidupan beragama di Indonesia dan Melbourne.

Satu hal yang aku notice dari perbedaan kehidupan beragama di Indonesia dan Melbourne adalah disini lebih sekuler. Disini, peraturan tetap ada, hanya saja lebih fleksibel dibanding di Indonesia yang masih terikat begitu banyak peraturan. Contohnya, untuk cewek adalah how you dress untuk ke gereja. Aku disini udah biasa banget liat cewek ke gereja pake baju sleeveless dan celana pendek, and nobody would stare at you. kalau di Indonesia, kamu ke gereja dengan baju sleeveless dan celana pendek, pasti everybody would stare at you. selain itu, Pastor memberi contoh kalau dalam aturan gereja Katolik, pastor tidak boleh memberikan hosti kepada umat yang meminta hosti untuk keluarganya yang sakit di rumah. tapi, jika dilihat dari circumstances-nya, di sini hosti bisa diberikan pada yang sakit. Dengan hal ini, umat akan tetap mau datang ke gereja.

Bukan cuma itu aja, aku sadar kalau tantangan tinggal di negara sekuler adalah how you keep your faith in your religion. buat yang Katolik, gimana caranya kalian tetep dateng ke gereja, berdoa, menjalankan ajaran Katolik dan tetap aktif dalam pelayanan di gereja. terus juga buat temen-temen disini yang muslim, juga gak kalah berat. disini gak semua tempat menjual makanan halal. kebanyakan daging-daging di supermarket adalah non-halal. belum lagi saat bulan puasa yang jatuh saat winter. udara yang dingin jadi tantangan tersendiri, juga melihat waktu untuk menentukan kapan sahur dan kapan buka puasa. karena di tv nggak akan ada pengingat waktu seperti di Indonesia. Jadinya yah harus bener-bener punya iman yang kuat untuk menjalankan kewajiban dan ajaran agama kalian, terlepas dari apapun agama kalian.

Semua hal itulah yang membuka mataku. Kalau kehidupan beragama disini damai, dan prinsipnya agamamu adalah urusan pribadimu dengan Tuhan. No wonder disini gak ada gesekan antar agama maupun antar umat beragama. Hmm… melihat keadaan di Indonesia, dimana masih ada sekat pembatas antara golongan mayoritas dan minoritas, kapan ya kehidupan beragama di Indonesia bisa damai tanpa gesekan? Bisa kok, sebenernya. Kehidupan beragama di Indonesia bisa damai suatu hari nanti. kuncinya, saling menghormati dan saling menghargai. Karena damai itu, indah. Dan aku percaya, walaupun ajaran setiap agama berbeda, tapi intinya setiap agama mengajarkan kebaikan. Setuju?

Your aurora girl,

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s