Cerbung · My Writings

Miracle of Smile (Part 2)

Hey guys….
Hari ini aku mau post part ke-2 dari cerbung aku ‘Miracle of Smile’.
Enjoy!

Miracle of Smile Part 2
By Levina Tabita

Hate Love, but I Can Love My Friend
Memenangkan persahabatan lebih berharga dan lebih membahagiakan dibanding memenangkan cinta! ( EVELYN LINESA )

 

“HAH? SI BRENGSEK ITU ADA LAGI?!” teriak Eve kaget. Dengan spontan semua makhluk di perpustakaan itu memelototinya. Refleks aku dan Joy dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan bersamaan. “Hmm..hhum…” kata Eve nggak jelas. “Tau diri dikit dong. Udah tau kita di perpus.” Bisik Joy kesal. Aku menatap sekeliling dengan pandangan minta maaf. “Sori deh, gue abisnya kebawa suasana. Gue kan emang orangnya ekspresif. Apalagi si Zara kalo cerita seru. Udah, ah. Gak seru banget sih ngobrol di perpus. Ini kan tempat nongkrong abadinya anak kutu buku.” kata Eve sambil melirikku. “Maksud lo gue tuh kutu buku? Enak aja. Gue kan nggak pake kacamata.” “Emang kutu buku identik dengan kacamata?” “Emang perpus identik dengan kutu buku?” Eve mengangkat bahu sambil tertawa. “Iya deh, gue ngaku kalah.” Aku tersenyum puas.

Eve dan Joy, adalah kedua sahabat dekatku. Sebenarnya sahabatku 3, tapi Sofia lagi sibuk ulangan susulan biologi. Nama lengkap ke-3 temanku itu Evelyn Linesa atau Eve, Joyanalavitasely atau Joy  dan Sofia Oiline Pranisa atau Sofia. Kita berempat ini sama-sama ceria, pintar, suka basket, dan heboh. Dan ada satu kesamaan yang unik banget, kita sama-sama hobi ngemil!

Aku, Eve dan Joy pergi ke kantin. Kami bertiga memesan 3 mie ayam dan 3 S-tee. Mie-nya sih kami bayar sendiri-sendiri, tapi S-tee-nya seperti biasa, Joy dipalak Eve untuk mentraktir. Memang Joy yang bisa dibilang paling diam tapi juga paling tajir. Eve mengambil sambal, lalu menuangnya sebanyak mungkin. Untuk urusan berani sambal, Eve juara 2. Juara pertama adalah Sofia. Juara 3 Joy, dan terakhir aku. Aku memang kurang suka dengan sambal, tapi tetap saja kalau makan mau pakai sambal. “Jadi… sebenernya yang tadi lo maksud Ricardo mantan lo pas SMP?” tanya Joy. Aku mengangguk. Joy memang beda SMP dengan aku, Eve dan Sofia. Aku, Eve, dan Sofia bersahabat sejak SMP. “Kok dia berani-beraninya sih nyium elo?! Emang dia siapa?! Di bibir pula!” kata Eve berapi-api. Kalo ada masalah kayak gini nih, Eve paling semangat meledak. Kadang-kadang semangatnya suka meluap dari batas.

Aku menempelkan telunjuk di bibir. Eve mengerti, lalu ia kembali bergulat dengan mie ayamnya, atau tepatnya mie sambalnya sambil sesekali melirikku dengan lirikan menunggu. “Gue juga nggak ngerti kenapa tuh anak ngeganggu hidup gue lagi. Dia mau gue balikan sama dia. Tapi gue tuh benciiiiiii setengah mampus sama dia. Hiiih… kayak kalo deket-deket dia tuh bakalan kena virus flu burung aja.” Joy menatapku dengan pandangan nyureng. “Nape lo, Joy?” tegur Eve. “Gue jadi mikir, kira-kira elo harus bersikap gimana di depan dia, Ra?” tanya Joy. “Emang kenapa?” “Emang lo nggak berasa canggung?” tanya Joy heran. Kadang-kadang si Joy suka mikir kepanjangan jadi rada nggak nyambung sama topik yang lagi dibicarakan. “Iya sih, kalo ketemu dia tuh risih gitu, atau gimanalah. Pokoknya super nggak enak!” Joy mengangguk-angguk. “Lo pura-pura cool aja, Ra. Pasang tampang cuek, innocent gitu. Anggep dia nggak kasat mata.” Usul Eve. “Bagus sih usul lo, tapi kalo dia ngajak bicara atau narik gue gimana?” “Elo gampar aja, atau kabur sekalian.”

“Heiiii…. Lagi pada makan ya?” kata suatu suara yang familiar banget. Kami spontan mendongak ke atas. Dan… panjang umur!!!! Si Ricardo!!!! Aku melotot. Eve merengut jengkel. Joy memasang tampang innocent. Emang dia kan belum tau si Ricardo. Dan namanya insting persahabatan, kami bertiga kompak menyantap mie ayam kami kembali, menganggap tidak ada apa-apa dan tidak menggubris sapaan itu. Dan Ricardo, kaku beku dicuekin. Kalo di komik tuh, sekarang dia kaku dan ada angin bertiup serta daun terbang. Aku nyaris ngakak pas Eve tiba-tiba membicarakan soal teori relativitas. Padahal biasanya dia kan anti membicarakan fisika dan sepupunya, alias mat dan kimia pada saat bersantai. Aku mengedipkan sebelah mata pada Joy, dan sepertinya ia mengerti bahwa itu Ricardo.

Namanya juga sahabat, feeling satu sama lain kuat banget. Tiba-tiba, tak disangka, mendadak, mengagetkan, mengejutkan, nggak kepikiran, kayak hantu datang tak diundang, pulang tak diantar, atau… apalah! Nggak jelas banget sih aku. Apa aku salah sarapan kali ya? Apa yang dimasukkin Inem ke sarapanku? Pokoknya, Sofia datang!

Sofia merupakan yang paling preman di antara kita. Dia melotot menatap makhluk di depannya. Sejenak ia menatap bingung dan pangling, tapi tiba-tiba mulutnya ternganga dan membulat. Ia menunjuk histeris makhluk di depannya. “A…Andhika Pratama!!!” Eve yang ada di sebelah Sofia yang berdiri, menjitak kepalanya. “Bukan, dogol! Dia tuh Ricardo!” kata Eve kesal. Iyalah kesal, suasana lagi formal-formalnya, si Sofia malah menghancurkannya dengan kebodohan konyol. Lagi konslet kali otaknya. Dahi Sofia merengut lagi. Dan tiba-tiba ia menepuk dahinya, “Oh, si brengsek!!!” Terang aja gue, Eve dan Joy ngakak. Si Sofia berani banget! Ricardo melongo, lalu tersenyum kecut.

Sofia menatap garang pada Ricardo. “Ngapain lo di sini? Pergi sana!!! Ganggu-ganggu orang aja!!!!” Dan Ricardo yang dari dulu takut sama Sofia, langsung pergi kayak tikus ketemu singa. Tawa Eve dan Joy masih belum berhenti. Sofia menatap bingung. “Kenapa lo berdua ketawa?” “Lagian… masih ada orangnya lo malah bilang si brengsek. Dia kan nggak tau kalo itu panggilannya.” Kata Joy di sela-sela tawanya. Sofia hanya tersenyum kecil pake tampang innocent dan duduk di sampingku dengan santai. “Gue mau makan dulu, ah. Chicken Steak satu ya, Mbak.” Katanya pada petugas kantin. “Gimana ulangannya?” Sofia menjetikkan jari. “Kecil. Gampang kok.” Jelas saja gampang, Sofia kan jagonya biologi. Dia nggak tau, kalau pelajaran itu selalu membuat orang lain berdahi keriting selama 24 jam.

Chicken Steak Sofia datang. Sofia makan sambil melirik Joy yang ada di depannya. Joy lagi termangu menunggu Sofia. Sedangkan Eve bermimpi makan es campur di siang terik. Dan aku sedang membaca buku yang aku pinjam dari perpus. Joy yang menyadari dirinya dilirik, balas melirik. “Kenapa?” Sofia nyengir kuda ditanya begitu. “Mau minta ditraktir minum?” tebak Joy. Mau nggak mau, Sofia mangangguk. “Nggak boleh. Salah sendiri nggak makan bareng.” “Yaah… Joy, kan tadi gue ulangan susulan.” “No exceptions.” Kata Joy santai. Sofia pura-pura ngambek. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahwa ia pura-pura. Joy hanya tertawa kecil.

“Eh, 15 menit lagi bel bunyi, lho.” Kataku sambil melirik jam perak kecilku yang berbentuk gelang. Eve menatapku malas. “Masa udah mau ke kelas, sih?” “Iya nih, kalo di kelas kan bisa disuruh-suruh sama guru piket. Males banget, deh.” Tambah Sofia yang sudah menghabiskan makanannya. “Ngomong-ngomong soal kelas, si Ricardo masuk kelas mana ya?” tanya Joy. “Oh iya, gue baru inget, si Ricardo kok bisa ada di sini sih?” tanya Sofia sambil memandangku. Biasa, Sofia emang bisa dibilang bolot. Kalo bolotnya kambuh, kayak sekarang nih, bisa bikin orang males plus keki. Aku balas menatapnya dengan pandangan, ‘tanya saja Eve’. Sofia mengerti lalu menatap Eve. “Yah… kok gue sih yang disuruh cerita. Kan panjang banget ceritanya. Males deh.” Aku memelototinya dengan pandangan ‘Dasar males’. Eve nyengir, “Ya udah deh, ntar gue ceritain, Sof.” Sophie tersenyum puas. “Oh iya, katanya si Ricardo belom dapet kelas, lho.” Kata Sofia. “Kok lo tau?” “Tadi di ruang guru gue denger. Si Ricardo nggak dimasukin ke kelas tadi pagi soalnya dia masih harus nyelesain akte-dll nya dulu.” Aku, Joy dan Eve ber-ooo ria. “Kira-kira masuk kelas mana ya?” “Mungkin masuk kelas kita.”kata Sofia iseng. “Oh, No….” kataku. Joy nyengir. “Kelas kita itu kan kelas anak-anak cerdas dan pinter.” “Si Ricardo itu pinter nggak sih? Gue nggak pernah sekelas sama dia sih pas SMP.”tanya Sofia. “Setau gue sih nggak banget!” Kata Eve cepat. “Elo sih, sentimen ama dia.” Ujar Sofia. Lalu kami ber-empat ngakak bareng.

Bel masuk berbunyi. Suara bel itu nyaring banget, nada suaranya berubah tiap hari. Kayaknya si Pak Slamet yang hobi ngeganti nadanya. Dan hari ini nada norak abis! Coba tebak, nada hari ini: Lagu Kucing Garong. Entah lagu itu request-nya siapa. Aku dan ketiga kawanku kembali ke habitat kami, kelas 11 IPA 1. Hebat kan, kami semua anak IPA? Sekelas pula. Saat aku mau masuk kelas, terdengar teriakan. “Hei! Ketua OSIS!” Bu Esti datang menghampiriku sambil tersenyum. “Kenapa, Bu?” “Kamu sekarang pelajaran apa?” “Fisika, Bu. 2 jam.” “Nah, itu. Pak Heri nggak masuk. Katanya sakit. Ini, ada tugas dari dia.” Aku menerima secarik kertas. “Oh iya, nanti ada orang yang mau ke sini.” “Siapa, Bu?” “Siapa ya? Ibu lupa. Pokoknya kamu terima aja dia masuk ke kelasmu, ya. Oke? Jangan ribut.”

Aku menuliskan tugas itu di papan tulis. Percuma juga ditulis, yang ngerjain juga seuprit. Yang lainnya pasti udah ngibrit duluan kalo tau Pak Heri nggak ada. Aku membuka buku cetak. Ah, uji kompetensi 7, itu mah dari awal semester udah aku kerjain gara-gara iseng. ( Ada ya ngerjain fisika iseng? ) Aku mendatangi Eve yang lagi nyantai. “Udah ngerjain, Eve?” “Belom. Lo udah kan? Gue nyontek punya lo ya?” Gini nih sifat aslinya Eve, kalo nggak kayak gini bukan Eve namanya. Pinter-pinter tetep aja males kalo nggak wajib ngerjain. Joy dan Sofia datang menghampiriku dan Eve. “Udah ngerjain, Ra?” “Udah. Lo , Joy?” “Beres.” Kata Joy puas. Aku melirik Sofia yang juga ikutan nyantai kayak Eve. Sadar dilirik, Sofia nyengir. “Gue pinjem punya lo ya, Ra?” Aku hanya tersenyum kecil. “Boleh, tapi bareng Eve ya.” Kataku sambil melempar buku fisikaku yang bersampul kertas kado motif hati.

Aku mengeluarkan HP. Ryan, yang juga ada di dekat situ, melihatnya. “Wee… Ketua OSIS ternyata bawa HP, lho! Kan dilarang sama sekolah.” kata Ryan jail. Aku mengerling nggak kalah jail. “Sst… bandel dikit boleh dong….”ujarku. Ryan tertawa. Aku melihat layar HP-ku. 7 new messages received. Hah? Baru buka HP 5 menit yang lalu, udah 7 yang sms? Laku amat sih aku? 3 missed calls: r0Bbi3 Oalah, ngapain sih Rob? Nelpon-nelpon? Mau cari perhatian? Nggak bakal dapet deh. Robby atau Robert Clinton, cowok Jerman tulen yang merupakan partner biolaku. Kami satu orkestra dan ibunya, merupakan pemilik akademi biola itu. Dia juga kembar, sama sepertiku. Kembarannya baik dan dia sahabatku, namanya Anabella Rosemary Clinton, atau akrabnya Lala. Robby sudah berulang kali bilang suka padaku, tapi selalu kutolak. Aku masih sedikit trauma buat pacaran. Walau kalau menurut Tasya, (lagi-lagi si pengomentar cowok ini?!) Robby itu keren banget. Dia bersekolah di Jakarta International School. Jangan heran dia bisa nelepon-nelepon. Sekolahnya kan sekolah bebas.

1 missed call: Tasya. Yah… si kupret satu ini. Pasti dia mau minta jawaban ulangan lewat HP. Jadinya nelepon-nelepon. Atau dia mau minta duit dikirim ke rekeningnya. Papa sih, masih kecil udah dikasih credit card. He…he…he… Tasya bakalan ngamuk kalo tau dibilang kecil. Dia kan udah SMU.

1 missed call: +62818060708xx. Hah? Siapa lagi pula ini. Kok nomernya aku kayaknya tau ya… Tapi siapa?

Message 1: From: Tasya 08: 20 AM

Eh, rumus massa jenis rel en cmprn apa si? G gi ul fsk. Susah! Msa plajrn SMP gini gw lp! Plis help me, kakakku tersayang. from Tasya imut.

Tasya imut? Hih, najis! Halah, kalo bantu-bantu gini mah aku ogah. Salah sendiri nggak mau belajar. Rasain lo, Ta! Kalo nilai fisika lo jelek lo kan bisa dicekokin Papa 50 soal fisika tiap weekend! Mendung aja lo pas weekend, biar nggak bisa ngeceng.

Message 2: From: Angie 08:22 AM

Ra, ntar lthn g? Lo ikut ya? Gue ogah latihan ma Robby doank. Soalny Nathan g bs dteng!

Nah, kalo ini dari Angie sahabat les biolaku. Kalo Nathan itu temanku sekaligus pacar Angie. Sori, Ngie. Gue juga nggak bisa dateng. Males! Lagian nggak ada yang nganter.

Message 3: From: Robbie 08.36

Hai, Chantix. Gi pel ap di skul?

Ah, nggak penting banget sih ne orang! Ga guna…

Message 4: From: Robbie 08:38

Koq g dibls? Gi sbk y? Ce-q emg rajin en aktif. Blajar giat ya, Yank!

Nah, ini nih yang aku benci. Cewekku? Sejak kapan? Dasar! Emang aku suka sama dia? Yank? Sialan nih kupret. Tasya, sebutanmu aku pinjem dulu sebentar ya. Kalo buat si kupret ini memang harus pake panggilanmu.

Message 4: From: IneeM… 08.40

Non zara nanti malem mau makan apa sekalian saya mau beli barang-barang yang udah abis di karpur saya minta anter bang udin ya non duit belanjanya masih ada kok

Ha…ha…ha…ini khasnya Inem. Nulis panjang-panjang dan ndeso. Kagak ada titik komanya. Carrefour aja jadi karpur. Boleh…boleh , Nem, minta anter Bang Udin. Nanti malem? Hmm… pengin salad sama waffle sirup aja. Si Inem, udah 1 tahun pake HP main linggo belum bisa.

Message 5: From: CarLos 08.43

Eh, Ra. Nanti w k rmh lo y. W mo pnjm buku bru sm buku bagus. Syapin cemilan yg enk ya, Ra! XP

Yah… nih orang. Bener-bener, lho. Carlos Dharmawan, temanku yang tinggal deket-deket rumahku. Katanya teman-temanku sih dia suka sama aku. Dia temannya Martin, teman TK-ku, yang rumahnya sama aku cuma beda 1 rumah kosong. Aku bersekolah di TK dekat rumahku saat TK. Martin itu bebas masuk rumahku. Dia bisa manjat ke atap rumah lewat rumah dia, terus masuk ke jendela di atap rumahku, yang nyambung ke kamarku yang 2 lantai. Ya udah deh, Los. Lo dateng aja.

Message 6: From: MarTiN 08.46

Zala! ( Gw gi cdel nih critany, wk3) Gw ntal ke lumah lo ya. Baleng Callos! Jgn minggat! Hls siap di pos!

Hah? Jayus bener nih orang. Nah, ini dia orang yang aku sebut tadi! Teman dekatku, Martin Diandra.

Message 7: From: +62818060708xx 08.50

Kok lo jadi jahat bgt sm gw? Gw tw gw slh, tp… ap lo bs maafin gw? Dan gw bkal msk k kls lo nnt.Gw msk kls 11 IPA 1, sm kyk lo. Gw tw smua soal lo, Ra.

Hah?! Jangan-jangan orang yang ngirim ini…

“Permisi…” kata sebuah suara yang… Hhh… Aku benci setengah mati!!! Beberapa anak di kelasku terbelalak melihat sosok yang “katanya” mirip Andhika Pratama. Dan yang terbelalak terutama cewek. ( Aku dan kawan-kawanku nggak masuk kategori ini! ) Ryan, yang asyik ngedenger lagu dari i-Podnya melongo melihatnya. Rino yang lagi penasaran nyelesaiin game di Playstation Portable-nya, mata nyaris keluar dari kelopak menatap orang itu. Sofia yang lagi asyik nge-bluetooth lagu dan gambar dari HP Eve harus noleh ke arah Ricardo dua kali dulu baru ngeh (maklum, ni anak rada bolot. Jangan lupa kenyataan itu! ) lalu mulutnya mangap, mungkin sebentar lagi ngeces tuh. Iih… Joy yang lagi ngiler ngerjain kumonnya Eve ( Biasa, Eve mah males, memanfaatkan teman. Tapi yang aku bingung, kok bisa-bisanya si Joy iseng ngerjain kumon? Namanya juga orang jenius.) menatap Ricardo lempeng, tapi terus kaget banget. Dasar telat.

“ELO?! KENAPA…” Eve yang sedang telungkup di mejanya sambil ngemil keripik kentang itu tiba-tiba berdiri dan teriak dengan suara tercekat. Aku merasa pandanganku mendingin. Dan hatiku terbakar amarah.

“Hai Zara, Eve, Sofia, Ryan, Rino.”Kata Ricardo dengan wajah memerah malu. Tentu saja malu, ia bertemu dengan orang yang tahu kalau dia brengsek! Aku membuang muka. Eve mangikuti jejakku. Sophie bersiul sambil mengikuti langkahku. Ryan menghampiri Joy dan mengikuti ke mana aku pergi dan Rino, sahabat Ryan dan aku saat SMP, juga mengikuti Ryan.

Kami rombongan keluar kelas, meninggalkan Ricardo yang kini sendirian di tengah-tengah warga anak rajin berkacamata yang PASTI, seuprit. Karena anak lainnya sudah ngeluyur ke berbagai tempat. Ada yang ke lapangan, kantin, perpus, laboratorium ( how can? ), ruang komputer, aula ( paling di sini makan atau pacaran ), koridor, gazebo, taman, sampai nyoba kabur ke warnet seberang ( kalau yang ini biasanya 90% gagal, habis si Pak Slamet jaganya kayak jagain armada perang ).

Aku berjalan cepat dengan pandangan marah. Ryan menepuk bahuku perlahan. “Sabar, Ra.” Aku berhenti lalu menghela nafas. Membanting tubuh ke kursi di sebelahku. Kini kami berada di gazebo sekolah, dekat taman.

“Yah, kayaknya kata-kata gue jadi kenyataan deh, sori ya, Ra?” kata Joy penuh sesal. Aku menggeleng, “Bukan salah lo, Joy. Ini hukum alam.” “Lo jangan kayak gitu, dong, Ra. Kesannya lo menderita banget.” “Emang gue menderita, Sof.” Semua terdiam, memikirkan kemungkinan paling buruk yang bakal terjadi akibat Ricardo yang satu kelas dengan mereka. “Jangan-jangan lo nanti bakal dikejar terus, Ra.” Kata Rino. Rino itu wakilku sebagai ketua kelas. Nama panjangnya Rino Gunawan. Dia baik, tapi rada jahil. Anaknya seru dan dia itu gamer sejati. “Atau lo dipaksa supaya cinta sama dia, dengan ancaman nyawa.” Kata Ryan. “Atau mungkin elo dirayu sampe lo jatuh cinta sama dia, Ra. Mulutnya Ricardo itu ular.” Kata Sofia. “Jangan-jangan nggak dirayu aja, tapi elo dipeluk, dipegang, diraba-raba, dicium segala lagi, Ra! Hiiih…” kata Eve bergidik. Pandanganku sayu, “Yaaaah… kok semuanya jadi malah ngasih tau gue yang aneh-aneh sih? Kasih hiburan, kek.” 4 orang pengacau suasana tadi nyengir. Joy yang nggak ikutan ngomong tersenyum simpul melihatku. “Ra, tapi menurut gue, bakal ada hal buruk yang terjadi.” “Kok lo jadi gitu juga sih, Joy?” kataku sambil menatapnya memelas. “Bukan mau sensus atau gimana ya… tapi… nggak tau deh.” Kata Joy nggak jelas. “Tapi insting gue kan nggak pernah salah, Ra. Ricardo bakal dibikin lebih deket sama lo. Lo hati-hati aja.”

Tapiii… sekalinya lagi apes, nasib nggak bakal segan-segan ngasih hukuman. Bu Tiara, wali kelasku, datang ke kelas sebelum pulang. Ia memperkenalkan Ricardo pada teman-teman sekelasku. Murid-murid ( terutama cewek, selain aku dan teman-temanku! Ih, najis deh sama dia! ) terpana melihat sosok Ricardo. Dan, samping aku itu kosong. Sebenarnya samping aku itu Renata, tapi dia baru pindah ke Amrik sono minggu lalu. Sedihnya, Bu Tiara nyuruh si kunyuk ( lebih pas kan daripada kupret? ) itu duduk sebelah aku! Si Ricardo pake acara malu-malu segala lagi pas mau duduk. Overacting abis!

Hiks, kini aku hanya bisa bergantung pada hukum alam. Pasrah aja deh, apa yang terjadi, terjadilah. Kayaknya beberapa hari lagi, hari-hari gue bakal makin rame! Nasib emang nggak bisa dilawan… Huaaaa!!!

The Prince

Yang namanya pangeran, suatu saat pasti bakal nongol sendiri ngambil hati putri! (Natasya Francis Triwijaya )

Bel pulang sekolah sudah berteriak, memecah keheningan koridor sekolah yang pada detik berikutnya, langsung dipenuhi anak-anak SMU bersorak-sorai. Selama lebih dari 7 jam tersiksa dengan logaritma, unsur, gerak cepat, kerajaan islam-hindu-budha, kredit-debit, amukan dan cercaan, akhirnya kemerdekaan tiba! ( Inilah zaman revolusi bagi remaja! ) Ada yang jalan pulang sama pacarnya, ada yang sama temannya. Dan duiiiikiiiit banget ( lihat, sudah dengan u dan 8 huruf i, plus banget! ) yang jalan sendirian. Dan orang yang duiiiikiiiit banget itu, salah satunya aku.

Kali ini wajahku bener- bener ngalahin mendungnya hujan badai es. Ketekuk abis! Eve udah ngibrit ke Senayan City. Katanya mau beli buku. Huu… boong banget tuh anak. Palingan juga ngeceng, bukannya beli buku! Joy ada reuni SMP. Maklumlah, ini kan hari Jumat. Sekolahku, SMU Sinar Harapan 7 ini, yang berada di kawasan Menteng, memang libur pada hari Sabtu. Enak banget kan? Sedangkan Sofia, disuruh jagain adiknya. Gara-gara ada acara, ke-3 temanku itu pulang cepet. Meninggalkan gadis mungil ( emang aku mungil? ) seperti aku pulang sendirian. Layaknya anak hilang nggak punya kawan. Apalagi gara-gara insiden tempat duduk itu! Lagian Bu Tiara nyebelin banget! Sebel sama Bu Tiara! Sebel sama Ricardo! Sebel sama hukum alam! Iiiih… males banget deh sekarang kalo ke sekolah! Ya Tuhan, apa salah hamba-Mu ini sampai Engkau memberikan cobaan segini berat? Hiks!

“Aduh!!” Lagi kesel dan jengkelnya, masih aja aku bertabrakkan dengan seseorang. Aku jatuh terduduk, begitu pula orang itu. Pantatku terasa sakit. Aku menggerutu, “Hati-hati dong, kalo jalan!” Aku mendongak. “Maaf, gue nggak sengaja. Gue nggak liat jalan. Sori, ya.” Lalu wajah di depanku juga mendongak. Wajahnya terlihat familier di mataku. Eeng… wajahnya mirip-mirip Gleen Alinskie, tapi matanya belok. Wajahnya… juga lebih keren… ( Ehm! )Rambutnya cokelat tua, matanya jernih banget, rada-rada abu-abu gitu. Itu kalau mataku nggak salah lihat. ( Tapi mataku kan nggak minus! ) Dia menatapku, “Elo Zara Clarissa Triwijaya, ya?” Aku ternganga. “Iya… Kok…lo kenal gue?” Ups! Pertanyaan bodoh, gue kan Ketua OSIS! Cowok itu tertawa. “Jelaslah gue kenal. Elo kan populer banget.” Aku tersenyum, menimbulkan lesung pipiku yang lebih sering tersembunyi. Cowok itu berdiri. Dia mengulurkan tangannya padaku, dan aku menyambutnya. Cowok itu membantuku berdiri. Lalu aku menepuk-nepuk rokku. “Gue Ramon.” Kata cowok itu sambil mengulurkan tangan. Aku menyambutnya. “Zara.” “Zara? Itu panggilan lo?” Aku mengangguk. “Lucu ya. Zara…” Kata cowok itu sambil memegang dagunya. Senyum simpul terulas di bibirnya. Memang banyak yang mengomentari namaku. Dari ‘Aneh!’, ‘Imut!’, ‘Lucu!’, sampai ‘Keren!’ ( Atas dasar definisi apa namaku bisa dibilang keren? )

“Elo… Kalo nggak salah kapten tim basket sekolah kita kan? Ramon Leonardo Reeves? Lo kan anak kelas 12 IPA 2?” Ramon tersenyum. “Ternyata gue dikenal juga.” “Oh iya, gue mau ke depan. Mau ikut?” tanyaku basa-basi. “Boleh.” Kata Ramon bersemangat. “Eh iya, kok tumben lo sendirian?” tanya Ramon. “Hah? Iya nih, sohib gue udah ngibrit semua. Udah ilang!” “Oh, Eve, Joy sama Sofia?” “Kok lo tau?” Keningku mengerut. “Yah, gue pernah denger aja. Banyak yang cerita. Soalnya elo kan terkenal. Jadi digosipin sana-sini.” Kata Ramon. Sekilas wajahnya terlihat merona. Tapi aku segera menepis pikiran halusinasi itu. “Cieeh… gue kayak seleb aja. Tengkyu, tengkyu. Nggak perlu tanda tangan gue kan lo? Abis gue nggak ada bolpen sama kertas.” Kataku sambil nyengir kuda. Ramon ngakak. “Oh iya, dari dulu gue pengin tau sebenernya, nama lo kok belakangnya Reeves?” tanyaku. “Iya, soalnya bokap gue orang Irlandia.” “Pantes… Udah gue duga.” “Elo sendiri? Kok muka lo khas-khasnya rada Indo. Rada-rada eropa juga gitu?” “Lo sadar juga ya? Soalnya nyokap gue blasteran Belanda-Indo.” Ramon mengangguk-angguk.

“Lo belum pulang?”tanyaku. “Belum. Gue bawa mobil.” “Eh, gue juga.” “Lo kan masih 16 tahun, kok udah boleh?” Aku tersenyum kecil. “2 bulan lagi gue sweet seventeen. Jadi udah boleh. Harusnya lo tuh ngomong gitu ke adik gue. Baru 15 tahun udah nekad ke sekolah bawa mobil.” “Wah, parah juga. Adik lo siapa?” “Natasya Francis Triwijaya. Anak kelas 10-5.” “Oh… dia sekretaris sekretariat basket kan? Lo nungguin dia?” Aku mengangguk. Huh, si Ramon nggak tau aja, si Tasya kan ikut sekretariat basket gara-gara mau ngecengin anak basket. Contohnya, si Ananda. Pikirku. Dan, kayaknya hari ini semua orang lagi panjang umur… Ada satu orang yang dengan semangat meluap dan heboh nepuk aku dari belakang. Nyaris aja aku terjungkal kalau nggak pegangan Ramon. Dan makhluk kupret itulah yang ada di belakangku. Tasya!

“Hei, udah nunggu lama ya?” sapa Tasya santai. Dahiku mengeriting. “Iya lamaaaaaaa bangeeeet. Ngapain sih lo? Luluran dulu ya di WC cewek?” kataku sewot. Tasya menjitak kepalaku pelan. “Sotoy lo!” katanya sambil tertawa. Lalu ia melirik ke arah Ramon. “Hai, lo temennya kakak gue ya? Oh iya ya, lo kan kapten tim basket SH7 kan? Udah kenal gue belum? Gue sekretaris sekretariat basket SH7. Gue Tasya, Natasya…” “Kupret! Panggil aja dia gitu.” Potongku. Tasya mendelik kesal. Ramon terkekeh geli melihat tingkah kami. “Eh, nomor HP lo berapa, Ra?” tanya Ramon sambil membuka HP. “Ckckck, ternyata kapten bawa HP juga…” “Lo sendiri? Pasti bawa HP kan?” Aku merogoh sakuku sambil nyengir kuda. Ramon tersenyum geli. “Ketua OSIS-nya aja bawa HP…” Aku hanya tersenyum malu. “Nomor lo berapa, Ra?” Aku lalu menyebutkan nomorku.

“Thanks lho, Ra. Besok ketemu lagi, yuk! Ntar gue sms deh!” Kata Ramon sambil berlalu pergi. Aku melambaikan tanganku perlahan. Setelah Ramon berlalu, Tasya menyenggol-nyenggol aku. “Si Ramon siapa lo sih, Ra? Tuh anak kan cakep banget. Mukanya… kayak Glenn Alinskie. Keren!” Aku meliriknya. “Jangan bilang mau lo gebet?” Tasya menggeleng sambil nyengir. “Gue dah punya cowok kok.” Aku memerlukan waktu 3 detik untuk sadar. Aku menganga. Tasya nyengir puas. Sepertinya ia memang berniat banget ngagetin aku. “Ah, serius lo, Ta! Siapa?! Kok bisa?! Anak kelas berapa?!”

Tasya cengar-cengir nggak keruan dengan wajah jahil. Aku sedikit gemas dibuatnya. “Anak kelas 11 IPA 3.” Aku berpikir sebentar. “11 IPA 3… Hmm… ciri-ciri-nya?” “Eeem… Cowok dan manusia.” Katanya sambil nyengir. Aku menjitaknya gemas. “Itu mah gue tauuu… semua cowok gebetan lo juga ciri-cirinya pasti gitu!” Dan kupret satu itu cuma ngakak. “Yah… orangnya putih, keren, pinter, manis, cakep, rambutnya cokelat gelap, dan… tim inti basket bagian point guard, nomor punggung 9.” Kata Tasya. Aku berpikir sebentar. Lalu aku menepuk tanganku. Tapi detik berikutnya aku ternganga. “ANANDA?! KOK BISA?!” Tasya nyengir geli melihat reaksiku. “Kenapa kaget?” “Kenapa kaget? Jelas dong, Ta! Elo kan tau kalo Ananda tuh nyaris perfect, keren, pinter, jago basket… beda jauh dong sama lo yang muka ama otakpun pas-pas-an?” aku berkoar terus terang, tidak peduli bahwa makhluk di depanku langsung manyun.

“Terus terang banget sih, Ra…” kata Tasya dengan bibir maju. “Lho, bukannya jujur itu baik?” “Iya, tapi ini jujur yang menyakitkan.” “Dimana-mana kejujuran selalu menyakitkan, Sya.” Kataku sambil tersenyum culas. Tasya manyun, tapi dia langsung cerah ceria lagi. “Tapi…. Finally! Gue punya cowok keren setinggi langit! Nggak kayak kakak gue yang sempurna tapi nge-jomblo terus…” katanya sambil melirikku. Aku memelototinya, tapi yang dipelototi malah siul-siul sok cuek. Aku mencubitnya pelan. Tasya tertawa.

“Tenang aja, sis. Gue yakin, lo bakal dapet cowok yang lebih keren dan baik… nggak kayak Ricardo.” desis Tasya pelan. Aku tersenyum pahit. “Itu dia, Ta. Si Ricardo tuh masuk ke sekolah kita.” Tasya ternganga. “Kok bisa???” “Meneketehe. Dianya ngikutin gue. Dia berantem sama gue lagi. Ah, ceritanya panjang. Lanjutannya di rumah aja, ya?” Kataku lirih. Mendengar nadaku, sepertinya Tasya tau kalau aku lagi gondok berat. “Ta, berarti kalo lo udah jadian gini, weekend lo ngibrit terus dong?” Tasya mengangguk-angguk bersemangat. “Mati lo, Ta. Kalo nilai lo anjlok gara-gara ngeceng tiap weekend, lo bisa dicekokin papa soal eksakta 100 nomor!” kataku sambil nyengir. Tapi tanpa mimik muka khawatir, Tasya malah bilang, “Makanya, karena itu gue dinobatkan mempunyai kakak cewek yang cantik dan jenius. Sebagai kakak yang baik, rajin-rajinlah melindungi adikmu ini dari papa dan memberika sontekan pas gue ulangan…” Aku melotot. “NGGAK!” kataku tegas. Tasya malah ngakak. Aku cuma geleng-geleng kepala melihatnya. “Hh… Ananda Leonanskie, tabah-tabahlah mengurusi pacar barumu ini…” batinku.

Dan kami berjalan ke parkiran sambil tertawa-tawa. Tapi, tembok pun bertelinga. Sosok cowok mirip Glenn Alinskie mengangguk di baliknya. “Rupanya Zara masih nge-jomblo…” desisnya senang. Aku berjalan menuju mobil BMW-ku dan Tasya mengikutiku. “Mau ngapain lo?” “Pulanglah…” “Loh, kan lo ada Yaris.” “Gue udah suruh Mas Ujang ngambil tadi.” “Lo kenapa nggak bareng Ananda?” Letta menepuk kepalanya. “Oh iya, kok gue bego gini ya?” “Emang biasanya lo kan juga bego.” Tasya meringis. Baru saja ia mau berbalik, tiba-tiba sosok Ananda sudah berdiri di depannya. “Eh, Ananda…” kata Tasya senang. Ananda mengelus kepala Tasya sambil tersenyum. Ia juga melihatku lalu tersenyum ke arahku. “Hai, Ra.” “Hai, Nan. Lo ati-ati aja ya kalo jadian dan jalan sama adik gue. Dia itu rabies!” kataku. Ananda tertawa. Sedangkan Tasya mendelik kesal sambil mencibir. Aku hanya mengangkat bahu innocent. “Nan, anter adik gue sampe rumah dengan selamat ya. Nggak boleh lecet, tabrakan atau kena paku…” Ananda nyengir. “Emang mobil?” Aku ikutan nyengir. “Anggep aja gitu. Lo tau rumah kita kan?” Ananda mengangguk. “Duluan ya, Ra…” kata Nanda sopan. “Daaaaah… Zara kakakku tersayang!” kata Tasya centil. Aku melambaikan tangan. Huh, di depan cowoknya aja tuh dia jadi sok imut gitu. Aku tersenyum geli. Lalu aku menstarter mobil… and let’s go home…

-Bersambung-

Nah guys, gimana part 2-nya? lebih drama, atau… yang part 1 lebih drama?
Kalau kalian punya saran buat cerbung ini, tulis di comment aja ya!

XOXO,

Advertisements

15 thoughts on “Miracle of Smile (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s