Cerbung

Miracle of Smile (Part 1)

Hi guys.
Jadi karena kalian udah banyak yang request mau baca cerbung-ku yang dulu di-publish di Facebook, sekarang aku mau post disini biar kalian juga bisa baca. Enjoy!

Miracle of Smile – Part 1
by Levina Tabita

SouLmate at Past
Mungkin saat ini aku hanya bisa menangis dalam hati, tapi aku tetap akan bangkit, karena dunia harus aku kalahkan. Karena air mata permata pun takkan bisa mengalahkan dunia (ALANA NOREEN TRIWIJAYA )

Aku mengambil nafas panjang. Satu lagi hari yang harus aku lalui. Aku menyambar tas sekolahku. “Nem, gue berangkat dulu, ya.” Orang yang aku panggil Nem, itu tidak lain adalah Inem, pembantuku. Inem itu berjiwa cekatan dan cerdas. Dia sabar, walau ia masih seumuranku, 16 tahun, ups, nyaris 17. Aku dan Inem sudah seperti layaknya sahabat. Inem datang tergopoh-gopoh. “Non Zara nggak makan dulu?” Aku menggeleng. “Nanti aja, Nem. Gue bisa makan di sekolah. Gue mau langsung berangkat.” “Saya bawain aja ya, Non?” Aku mengangguk. “Tasya belum bangun, Nem?” “Udah kok, Non. Cuma lagi mandi.” Benar kata Inem, Tasya tiba-tiba berlari turun dari tangga. Nyaris aja nabrak aku. “Heh, tau diri dikit dong kalo jalan. Masa nubruk sana nubruk sini. Kayak banteng nggak dikasih makan seminggu lo.” Tasya nyengir. “Sori,Ra. Gue lagi semangat nih!” “Tumben amat lo semangat ke sekolah? Biasanya kan lo paling lelet dan lemot kalo disuruh berangkat?” Tasya mencubit lenganku pelan sambil tertawa. “Enak aja! Bilang aja gue tuh kebo!” Aku nyengir kuda. “Gini lho, Ra… Ah, ntar aja deh pulang sekolah. Ya, Ra? Gue bakal bawa kabar bagus soalnya! Oke? Daah…”

Aku melotot. “Heh! Apaan yang daah? Kita kan berangkat bareng!” Tasya hanya bersiul lalu tertawa. “Ogah ah hari ini. Ntar gue yang kena sial telatnya elo. Gue bawa mobil lo ya, Ra!” Belum sempat kucegah, suara mobil Yaris-ku menderu dan langsung ngibrit. Aku mendengus kesal. Kena telatnya aku? Sialan tuh anak. Padahal juga biasanya aku yang kenal sial telatnya dia. Aku mengambil kunci mobil BMW dan menyalakan mesinnya. Walau aku baru berumur 16, aku sudah punya SIM, karena 2 bulan lagi aku berumur 17. Nggak kayak si Tasya, masih umur 15 tapi udah nekad nyetir. Anak mantan menteri hukum kok gitu. Ah, Papa… kalau kamu sudah bertobat nanti, hukumlah adikku yang badung itu dengan sabetan kemoceng. Amin. Sudahlah, kalau soal Papa atau Mama, aku malas membahasnya.
By the Way, kalian belum aku beritahu ya, namaku Zara Clarissa Triwijaya atau akrabnya Zara saja. Aku adalah ketua OSIS di sekolahku. Hmm… bukan bermaksud sombong, tapi kalau kalian ingin tahu prestasiku, aku tidak bisa menyebutkannya satu-persatu. Prestasiku sejak TK sudah nyaris 60-an. Piala-piala sudah saling berebutan nampang di atas rak meja pajanganku. Kira-kira ada 42 piala, 30 medali dan puluhan piagam di atas itu. Dan 25 piala dan 15 medali lainnya di gudang.
Aku dikenal oleh lingkunganku sebagai cewek yang paling aktif dan cerdas. Wajahku cukup manis, hanya manis, atau imut. Aku tidak mau berkata bahwa aku cantik. Cantik merupakan satu kata yang aku benci.

Aku masih termenung dan tidak sadar bahwa lampu di depanku sudah berubah menjadi hijau. Bejibun mobil-mobil di belakangku secara serentak kor berkicau dan mengklakson bersamaan. Aku menghela nafas. Gini nih, cirinya orang Jakarta. Kalo telat jalan sedetik aja udah diprotes. Gimana nggak mau pada stress? Waktu adalah uang, uang adalah waktu.

Akhirnya aku melihat gerbang hitam sekolahku, juga makhluk berbulu yang juga hitam, bulat dan tembam. Eits, jangan kaget. Itu bukan gorila maupun beruang. Itu hanya monyet peliharaan sekolahku. He…he…he… maksudku Pak Slamet Radyanto. Atau Pak Slamet, satpam sekolahku yang super duper setia sama si Snow White, kepala sekolahku ( nama aslinya Wisnu Tarumanegara ) yang badannya dan mukanya sangar-sangar gitu, tapi anti sama sinar matahari. Bayangin aja, Pak Slamet udah kerja selama 30 tahun jadi satpam demi supaya bisa kerja bareng Snow White. Kulit si Snow White tuh putih banget, ngalahin putihnya kulit Saskia, cewek berbadan mungil dan imut dan berkulit putih banget kayak marmut yang katanya, kurang gizi. Tapi ada satu keuntungan dari si Snow White itu, kalau upacara, kita jadi nggak lama-lama. Gara-gara dia ngeluh terus panas dan pidatonya paling lama 5 menit. Pak Slamet itu sahabat baik Snow White. Tapi perbedaannya itu nyaris 180 derajat. Pak Slamet hitam legam, Snow White putih pucat. Tapi satu kesamaan, mereka sama-sama bulat. Rumornya, mereka sewaktu kecil suka bermain “Menggelindingkan Diri” bersama. Aneh banget ya?

Aku membuka kaca mobilku. “Pagi, Pak.” Kataku sambil tersenyum. Pak Slamet melihatku dengan sumringah. Pak Slamet itu sudah menganggapku anaknya sendiri, karena kami sangat akrab. Maklumlah, Pak Slamet itu duda tanpa anak. “Eh, Zara. Pagi-pagi gini udah datang, atuh? Sekolah’e masih sepi.” “Soalnya kalau telat aku bisa dimarahin sama Bu Esti.” Pak Slamet hanya tersenyum. Bu Esti itu sahabat dekat Snow White, yang juga merupakan wakil kepala sekolah mencakup pembina OSIS. “Ketua OSIS nggak boleh telat!” teriaknya saat melihatku datang tergopoh-gopoh “sedetik” setelah bel berbunyi.
Aku melanjutkan perjalanan ke tempat parkir. Memang keadaannya masih sepi. Aku keluar dari mobil sambil menyambar tas Billabong hitamku. Aku sedikit berlari menuju koridor sekolah. Aku baru ingat, aku meninggalkan dokumen pensi yang penting banget di laci ruang OSIS.

Tapi langkahku terhenti. Aku menabrak perlahan seorang cowok. Cowok itu bertubuh besar dan berbahu bidang. Tubuhnya atletis dan wangi parfum maskulin. Kayaknya dia pake parfum Tommy Hillfiger. Tampangnya sekilas terlihat seperti Andhika Pratama. Rambutnya pirang kecokelatan. Kalau menurut Letta, cowok kayak gini udah so pasti dinilai sama dia perfect. Tapi… aku benci cowok ini. Cowok pengkhianat di masa laluku. Cowok yang membuang harga diriku. Cowok yang nggak ngerti perasaanku. Aku melotot terkaget-kaget sekaget-kagetnya. Wajah brengsek ini lagi muncul kembali dalam memoriku.

“ELO LAGI?!” teriak aku histeris. Wajah cowok itu juga terkejut dan tidak menyangka. Tapi lalu ia tersenyum, “Akhirnya gue nemuin lo lagi,Ra.” Wajahku sudah aku rasakan seperti gunung berapi yang siap meletus. Aku berharap wajah menyebalkan di depanku ini yang bakal jadi korban laharnya. Biar gosong aja sekalian! Ah, jangan, ampe ko’it deh! Supaya dia nggak usah ngerecokin hidup orang.

“Nemuin gue lagi? Jadi selama ini elo nyari-nyari gue terus? Mau lo apa sih?!” aku semakin emosi. Tidak biasanya aku seperti ini, biasanya aku selalu tenang. Dan kini aku merasakan mataku mulai perih dan berair. Cowok itu menghela nafas. “Gue tuh masih sayang sama lo, Ra. Maafin gue yang ninggalin lo seenaknya…” “Maaf…maaf… lo tau nggak sih, kalo minta maaf mah anak kecil juga bisa. Basi!” “Gue sengaja masuk sekolah ini, soalnya gue ngeliat foto lo ada di buku SH7 Memorian punya temen gue. Di sini elo udah jadi orang hebat ya, Ra?” Aku mendengus. ‘Basa-basi nggak guna.’ Pikirku. “Ra, gue tuh cinta mati sama lo, tapi lo malah pergi ninggalin hidup gue, gue tau gue salah, tapi…” “Lo udah tau salah kan? Makanya jangan ikutin hidup gue!” potongku. “Tapi gue suka sama lo, Ra!” “Who cares? Itu mah terserah lo. Tapi lo jangan tiba-tiba ngancurin hidup gue yang udah tenang, dong!” “Ra, please… dengerin gue dulu…” “Apa yang harus didenger? Gombalnya elo? Brengseknya elo? Ri, gue tuh udah pernah ngomong sama lo, kan? Kalo cinta tuh nggak bisa maksain. Kalo gue nggak suka sama lo, lo mau apa? Kalo gue udah nggak mau pacaran sama lo, lo bisa apa?!” Ricardo terdiam. “Tapi gue suka sama lo, Ra…” “Lo tau kan arti kata PUTUS?” kataku tajam. “Gue putusin lo, karena lo berkhianat. Kita udah PUTUS. Berarti nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kalo putus, elo tuh udah nggak berhak dapat perhatian dan cinta dari gue. Jadi elo…” Tapi kata-kataku terpotong. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lembab dan bersensasi panas yang bergerak di bibirku. Bibir Ricardo menempel lekat dan hangat di bibirku. Aku meronta, tapi tangan Ricardo dengan kuat menahanku. Dengan sekuat tenaga, aku menepis bibirnya. Air mataku sudah tak dapat kubendung lagi. Semuanya tumpah. “Kenapa sih elo selalu ngacauin diri gue?! Apa belum puas elo bikin gue sengsara?! Kita tuh udah PUTUS, Ri! Gue benci sama lo!”

Aku berlari kencang menuju kelasku. Air mataku menetes deras, memori dalam buku harian kelamku serasa terbuka dan berjalan kembali. Semua karena Ricardo! Batinku.

Cowok itu berdiri termenung di koridor sekolah. Ia menatap langit yang tiba-tiba menitikkan air mata juga. Ia memejamkan mata, “Gue nyesel banget, Ra…”

My Black Diary
Kamu masih punya senyum, Kamu masih punya tangis, kamu masih punya kalau sudah nggak punya hati saking seringnya hatimu kena tonjok Black Diary, atau kenangan Buruk ( JOYANALAVITASELY )

Gue ketemu sama dia lagi! Cewek yang pernah mengisi relung hati gue yang sempet kosong. Cewek yang mukanya manis kayak Mischa Barton di-mixed sama Ashlee Simpsons ( Hah? Gue jago amat nge-mix muka orang. Kan ini baru hipotesis deskripsi! ). Cewek yang cerdas dan bijak. Cewek yang ceria dan perhatian. Cewek yang penyayang dan rela berkorban. Cewek yang selalu nyediain senyum dan hiburan kapanpun gue butuh. Cewek berlesung pipi yang imut. Cewek berambut panjang sebahu model layer berwarna cokelat kental. Cewek bermata jernih berwarna cokelat muda. Cewek berkulit putih susu dan berpipi merona jambu. Tapi gue, si brengsek, dengan gobloknya khianatin dia.
Gue Ricardo Putera Susanto, mantan cowoknya Zara pas SMP. Kalau kalian mau tahu, kenapa Zara bener-bener benci sama gue, ceritanya panjang.
Awalnya, pas gue sama Zara baru aja jadian, pas SMP kelas 2, gue sama dia sih anteng-anteng aja. Kita nge-date tiap weekend, romantis, mesra, dan nggak pernah berantem. Tapi… Zara itu jenis cewek yang deketnya sama cowok. Dia deket sama satu cowok keren namanya Ryan. Tapi kalo gue dijejerin sama Ryan, masih kerenan gue, kok! Selagi itu, gue bete banget sama Ryan gara-gara deket-deket sama Zara. Pulang sekolah, gue mukulin Ryan bareng-bareng sama temen-temen gue yang preman. Zara tau ini. Dia ngeliat kejadiannya dan langsung nampar gue. Dia marah nggak keruan. Gara-gara itu gue didiemin Zara 1 bulan.

Belum baikan, gara-gara bete didiemin Zara, gue deketin salah satu cewek di sekolah gue yang juga cantik. Namanya Rachel. Dia udah lama suka sama gue. Kita deket banget selama 1 minggu. Dan sekali itu, gue ceroboh. Gue nekad meluk dia. Tapi gue mengandaikan Rachel waktu itu yang gue peluk sebagai Zara. Dan Evil Bless Me, Zara lewat waktu itu! Dia lagi bawa buku. Dan seketika itu juga, dia jatuhin buku-bukunya. Gue udah was-was aja, takut digebuk pake buku-buku itu. Soalnya buku yang Richa pegang tebelnya setengah mati. Gue tinggal nunggu ko’it aja kalo emang bener mau digebuk.

Tapi… Zara cuma tersenyum. Senyumnya sedih, dan matanya dingin. Gue nggak bisa apa-apa, dan Zara berlari pergi.
Besoknya, emang gue itu bodoh. Gue suka pura-pura. Gue ditanya temen gue, apa gue masih suka sama Zara. Rupanya temen gue itu tau gue pelukan sama Rahel. Gue, karena takut dianggep cupu meluk-meluk orang sembarangan, atau juga dianggep selingkuh, pura-pura kayak gini: “Hah? Zara tuh buat gue cuma mainan buat iseng-iseng doang. Dia tuh nggak penting!” Dan gue sama temen gue ngakak sama-sama. Gue nggak nyangka, ternyata Zara ada di luar. Dia masuk ke kelas gue sambil banting pintu. Mukanya marah banget. Dan… satu lagi yang gue nggak nyangka. Dia tersenyum!!!! Terus dia bilang: “Kita Putus.” 2 kata yang singkat, padat, jelas, dan langsung menghancurkan hidup gue dalam hitungan detik. Ngalahin kecepatan hancurnya istana pasir yang terkena air laut walau istana yang paling lapuk sekalipun.

See, jadi kalian sudah mengerti kan kenapa Zara menganggap gue brengsek. Dan kalian pasti juga mengerti, kenapa gue terus ngejar-ngejar Zara walaupun masih banyak cewek yang lebih cantik dan mungkin lebih baik dari Zara. Zara itu cewek yang luar biasa. Dia punya self powerment. Buktinya aja, dia masih bisa tersenyum. Walaupun di depannya jelas-jelas ada hal yang bikin dia meledak, masalah yang bakalan buat dia kesusahan 7 keliling dan yang pasti bikin dia nangis bombay. Tapi dia tersenyum!! Jadi, karena alasan itulah gue nggak mau ngelepasin dia. She’s amazing. Tapi… namanya juga orang yang udah berkhianat, jadi ada hukumannya. Dan hukuman inilah yang paling menyakitkan, Zara nggak bakal pernah suka gue lagi.

Gue liat dengan mata kepala sendiri! Si Ricardo nyium Zara! Kenapa orang aneh nan nyebelin itu bisa ada di sini? Setau gue, dia udah ngibrit ke Inggris pas SMU. Kenapa pake acara mampir-mampir ke SMU Sinar Harapan 7 ini? Huh, ngeliat dia, pipi gue yang dia tonjok dulu jadi berasa nyut-nyutan lagi. Asal tuh anak tau, SH 7 ( Sinar Harapan 7 ) itu udah bersih dari noda anak-anak brengsek macam dia! Ngapain dia ngotorin lagi!

Ups, gue belom memperkenalkan diri, ya, para pembaca? Gue Aryan Suryawan, tapi nama kerennya Ryan. Pasti kalian udah pada kenal gue ya? Nama gue udah disebut-sebut di dialog atas kan? Pake dipuji-puji keren segala lagi. He…he…he… Nah, mungkin lewat cerita sebelumnya kalian kepikiran, gue tuh naksir Richa. Tapi, kalian SALAH BESAR jika berpikiran seperti itu.
Gue tuh mantan pacar Alana Noreen Triwijaya . Hayo, coba tebak, siapakah dia? Namanya mirip-mirip sama Zara kan? Adiknya? Bukan. Tasya itu bernama Natasya Francis Triwijaya. Kakaknya? Bukan juga. Zara tidak punya kakak. Alana itu saudara kembar Zara.
Sebenernya gue juga nggak bisa dibilang nggak deket sama Zara. Maklumlah, gue itu mantan calon kakak iparnya Zara. (PD amat sih gue? Mending kalo emang beneran gue nikah sama Alana) Nah, pasti pada bertanya-tanya ya, si Alana itu kok nggak pernah disebut-sebut? Tentu saja nggak pernah. Kalau mau tahu kenapa Alana nggak pernah disebut, dengerin cerita gue…
Pas kelas 1 SMP, gue ketemu dan sekelas sama Zara dan Alana. Zara sama Alana itu beda jauuuuuh… banget. Zara itu perhatian, penyayang, lembut dan ceria. Tapi Zara itu blak-blakan. Hmm… Coba deh kalo tuh anak denger pujian gue tadi yang setinggi langit. Bisa terbang ke langit 7 bidadari dia! ( Kok kayak lagunya Ada Band?) Kalo Alana itu kalem, malu-malu, tertutup dan nggak pernah deh mulutnya cablak. Tapi pas pertama kali ketemu Alana, buset dah, gue tuh kayak ngobrol sama patung. Untung aja gue nggak dianggap sarap sama orang lain gara-gara ngomong sendiri. Sumpah deh, suasana pas kenal sama Alana tuh ngebetein banget. Makanya gue tuh lebih deket sama Zara yang supel. Gue seneng sikapnya yang ceria dan apa adanya. Pas waktu itu, gue tuh ngira kalo Alana sok banget. Sombong, nggak mau berteman sama anak lain. Tapi kata Zara, sikap Alana dari kecil emang kayak gitu. Anteng, tenang, diam. Ternyata dibalik wajahnya yang selalu kayak segar tanpa riak itu, sebenernya dia itu bijaksana. Dia tegar, dan juga selalu bisa ngatasin masalah dia maupun orang lain sendirian. Dia selalu jadi tempat Zara curhat. Dia yang selalu ada di belakang Zara. Ngebantu Zara berdiri.
Karena itu, kata Zara, Alana merupakan orang yang ia kagumi sekaligus hormati. Zara pengin jadi kayak Alana, bisa berdiri dan berpijak pada kakinya sendiri. Mengatasi hidupnya yang sebenarnya selalu penuh tangis dan kenangan buruk. Tapi Alana selalu bisa mengatasinya dengan cara pandang positif. Alana nggak pernah putus asa dan menangisi hidupnya yang buruk. Buruk gimana? Kalian bakal tau kalau udah baca keseluruhan buku ini. Zara dan Alana itu hidupnya menyakitkan banget. Zara selalu nangis kalo nggak kuat, tapi Alana nggak. Alana nggak pernah terpuruk dan menitikkan air mata sedih. Menurut Alana, dunia bisa dilawan, kalau dunia nggak bisa dilawan, dia nggak bakal bisa jadi manusia dan orang yang tegar. Kata Zara, dia nggak bisa kayak Alana, yang bisa bangkit sendiri. Dia selalu butuh orang lain, yaitu Alana.

Hmm… kok jadi ngebicarain soal itu. Nah, makin lama gue sama Alana jadi makin deket. Memang benar kata Zara, setelah gue deket sama dia, sebenarnya dia itu menyenangkan walau pemalu dan kalem. Dia selalu nolong gue kalo gue ada masalah. Dia selalu punya hiburan buat gue, kapanpun gue butuh. Dia bijaksana dan perhatian sama lingkungannya. Dan secara nggak langsung, akhirnya gue sadar kalo gue udah jatuh cinta sama Alana.
Pas kelas awal kelas 2, gue tembak si Alana. Dan gue bener-bener nggak nyangka kalo dia juga suka sama gue dari awal ketemu. Zara, yang sebenernya tau perasaan gue karena gue udah sering cerita ke dia soal perasaan gue sama Alana, nggak pernah cerita kalo Alana suka sama gue. Pas gue “interogasi”, katanya dia sebenernya juga tau kalo Alana suka gue. Alana udah sering cerita sama dia. Pas gue tanya kenapa nggak ngasih tau, dia cuma bilang nanti gue ge-er dan kesenengan. Lagian katanya nggak seru kalo dikasih tau. Terus dia ngeloyor pergi. Dasar tuh anak! Pantes tiap kali gue cerita soal perasaan gue, tuh anak cengar-cengir nggak keruan.

Gue sama Alana awet sampe kelas 3. Pas kelas 3, ada seorang anak baru, namanya Laras. Dia suka sama gue. Laras benci banget sama Alana. Nah, suatu kali gue ngelus kepala Zara. Gue sama Zara kan emang deket banget. Tapi Alana nggak tau kalo gue sama Zara tuh kalo bertingkah kayak udah sesama cowok. Bisa peluk-pelukan gitu. ( eh, tapi kalo peluk-pelukan sama cowok beneran, itu hanya pelukan persahabatan! Bukan pelukan homo! ) Tapi Zara tuh nggak punya perasaan ke gue.
Pas gue ngelus itulah, si Laras sengaja motret gue. Terus tuh foto di sebarin ke satu sekolah. Anak-anak lain sih nggak masalah. Cuma 5% yang pada heboh. Soalnya yang 95% lainnya udah pada tau kalo gue sama Zara tuh sobatan dan dekeeeeeet banget.

Tapi, Alana tuh ternyata sensitif banget soal cinta. Dia marah besar. Mungkin juga soal pengaruh kata-kata Laras. Soalnya Laras itu pinter mempengaruhi orang. Pas pulang sekolah, gue berusaha membela diri dan ngebela Zara. Coba bayangin susahnya. Apalagi si Alana tuh pinter. Kan tau susahnya mungkir dari pertanyaan ribet orang jenius? Saking udah marahnya, Alana lari pergi. Gue berusaha megang tangannya tapi ditepis. Nah, gara-gara marah campur sedih, dia nyeberang jalan raya nggak lihat-lihat. Dan dalam hitungan detik, gue udah nggak bisa lagi lihat senyuman Alana. Cuma satu suara yang gue denger. Suara histeris, suara kaget dan suara itu juga yang meneriakkan nama gue sebelum dia menghembuskan nafas terakhir. Alana cuma sanggup teriak satu kata yang bener-bener ngebacok hati gue: “Ryan!!!” Dan tubuh Alana sudah hilang terseret truk container sampai 50 meter dari hadapan gue. Gue, orang yang dia teriakkin, orang yang bener-bener Alana percaya walau detik terakhirnya, malah diam. Dan nggak bisa berbuat apa-apa. Gue cuma bisa nangis di koridor rumah sakit dengan wajah tertelungkup tangan, lalu berdiam diri penuh air mata di depan jenazah Alana. Cuma itu!
Semenjak itulah gue nggak bisa ketemu lagi sama Alana. Gara-gara Laras. Gara-gara truk itu. Gara-gara gue sendiri. Gue nggak bisa lagi ngerasain poffertjes buatan dia tiap weekend. Gue nggak bisa lagi ngeliat senyum kalem dia. Gue nggak bisa lagi denger satu suara merdu yang selalu bilang: “Jangan lupa ke gereja ya!” tiap selesai nge-date pas weekend. Gue nggak bisa lagi ngedenger permainan piano seorang Alana. Gue nggak bisa lagi ngecium bibir peach dan pipi putih susu halus itu. Gue nggak bisa lagi ngeliat dia ngedatengin gue dengan wajah sumringah tiap istirahat. Dan terakhir, gue nggak bisa lagi nemuin seorang Alana.

Hhh… sedih banget ya kenangan gue? Tapi hidup gue tuh masih junior. Coba kalian tau hidup Zara. Mata kalian bakal lebih terbelalak. Kalian harus tau, kalau hidup itu bener-bener mahal. Makanya, jangan nyesel gara-gara hidup.

-Bersambung-

Nah, gimana part 1-nya? cerbung ini ada 4 part, sih. besok-besok aku post lagi lanjutannya, ya!

Peluk cium,

Advertisements

11 thoughts on “Miracle of Smile (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s