Opinion

Generasi (Akrab) Kekerasan & Bullying?

Disclaimer : Sebelum kalian nuduh aku menggeneralisir, aku cuma mau bilang ga semua generasi muda Indonesia (akrab) dengan kekerasan.Banyak juga kok, generasi muda Indonesia yang proaktif, smart,  bisa jadi contoh bagi sekitarnya dan jauh dari yang aku omongin di sini. Opini ini murni aku buat karena aku sudah gerah dengan tradisi senioritas & bullying yang masih banyak terjadi di banyak kampus di Indonesia, bahkan terkadang sampai memakan korban. It’s okay if you didn’t agree with my opinion, tapi jujur ini apa yang aku pikirkan in the first place. I’m entitled to my opinion and this blog is where I mostly turn my thoughts into words. I never asked anyone to agree with everything I said here because that’s not the purpose of my writing . I’m open to any feedback, discussion, or your thoughts as long as it’s healthy & constructive.

Hai guys… apa kabar?
Post aku untuk hari ini terinspirasi dari sebuah kejadian yang terus berulang di banyak Universitas di Indonesia, yaitu tradisi kekerasan di kampus. Kemarin 3 orang mahasiswa angkatan 2015 meninggal setelah mengikuti pelatihan dasar Mapala UII Yogyakarta. Terus belum lama ini juga terjadi penganiayaan di STIP Marunda Jakarta yang menewaskan juniornya.

Dengan kejadian yang terus berulang seperti ini, jujur membuatku bertanya-tanya. Mengapa kekerasan seolah menjadi tradisi dan terus berulang? Kekerasan yang berawal dari senioritas seolah terulang terus tanpa bisa dihentikan. Ga salah kalau kemudian pemerintah Indonesia melarang adanya kegiatan MOS atau perpeloncoan. Karena dengan larangan itu, diharapkan segala bentuk senioritas atau bullying, baik di sekolah maupun kampus bisa diminimalisir. Tapi dampaknya masih belum maksimal. Apalagi dengan adanya pembiaran tindakan kekerasan baik di sekolah maupun di kampus sehingga untuk memutus mata rantai kekerasan di lingkungan pendidikan terasa semakin sulit.

Generasi Indonesia sekarang bisa dikatakan adalah generasi yang akrab dengan kekerasan. Hal ini banyak terjadi karena pergaulan yang salah. Apalagi zaman sekarang, menjadi anak baik-baik dibilang cupu, jadul dan nggak keren. Dan yang lebih banyak disukai adalah mereka yang perilaku dan pergaulannya amburadul. Banyak anak muda zaman sekarang yang takut dikucilkan di lingkungan pergaulannya sehingga ikut terjerumus dengan hal-hal yang pada hakikatnya bisa dikategorikan tindakan kekerasan atau bullying. Bullying yang dilakukan terus-menerus bisa berdampak buruk terhadap korban, bahkan beberapa korban kekerasan atau bullying ada yang sampai meninggal. Dan untuk pelaku, kalau sudah kejadian barulah menyesal. Tapi itu semua sudah terlambat. Selain itu, pengaruh lingkungan keluarga juga membentuk karakter seseorang. Generasi muda yang dibesarkan di keluarga yang menggunakan kekerasan, bisa secara tanpa sadar melakukan tindak kekerasan atau bullying di sekolah atau kampusnya. selain dari faktor lingkungan dan pertemanan, media pun memiliki andil dalam hal ini, terutama tontonan anak muda kekinian. Kalian perhatikan deh, tayangan media Indonesia kekinian? Isinya sinetron dan acara-acara tidak bermutu yang mengandalkan kekerasan, lawakan yang menyerang fisik seseorang, menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras & Antargolongan),dll. Banyak juga yang menonton acara-acara semacam itu sehingga tanpa mereka sadari, apa yang mereka tonton terbawa hingga alam bawah sadar mereka, bahkan sampai ditiru dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk generasi muda Indonesia, ayo dong, berubah. Jangan ragu untuk teguh memegang prinsip kalian, jangan ragu untuk mengatakan kebenaran dan say no to bullying ataupun segala bentuk tindakan kekerasan atas nama senioritas. Kalian juga harus berpikir sebelum bertindak. terutama jika kalian ingin melakukan tindakan kekerasan dan bullying atas dasar senioritas. Pikirkan apa yang akan terjadi kalau kalian melakukan tindakan bullying? Pikirkan juga dampak perbuatan kalian terhadap korban dan keluarga korban bullying kalian? jangan menyesal di belakang dan jangan rusak masa depan kalian sendiri. Kalian sebagai generasi muda, juga harus selektif memilih tontonan di TV. Jangan nonton sinteron dan acara-acara TV yang ga bermutu, tapi gunakanlah waktu kalian untuk hal-hal yang positif seperti menekuni hobi, belajar, ataupun ikut berbagai kursus yang sesuai dengan bakat dan minat kalian. Dengan melakukan hal ini, kalian dapat menambah skill untuk bekal kalian di masa depan nanti. Ya, kan?

Guys, janganlah kalian menjadi generasi yang (akrab) dengan kekerasan. Sebab masa depan Indonesia ada di tangan kalian. Mau dibawa kemana Indonesia kita dan apa jadinya Indonesia di masa depan bila generasi mudanya akrab dengan kekerasan? Sekali lagi, untuk generasi muda Indonesia, kalian bisa keren kok tanpa harus merasa sok jagoan.
Can you do that?

Your one and only,

Advertisements

7 thoughts on “Generasi (Akrab) Kekerasan & Bullying?

  1. Media Indonesia juga berperan besar sih. liat aja sinteron zaman sekarang, isinya kekerasan semua. mereka (para pembuat sinetron) ga menyadari dampaknya untuk generasi muda. ditambah lagi, generasi muda kita belom bisa memilih tontonan secara selektif, ya jadi begitu deh!

    Like

  2. bener banget. Penyebaran kekerasan juga dipengaruhi sama peer pressure. kalo ada temen yang ngebully, pasti mereka juga bakal ikut ngebully biar dikira solider sama temen sendiri, dan ini yang aku gak suka.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s