Opinion

Generasi Malas Membaca.

Hai guys.
apa kabar?

Hari ini aku pengen nge-share tentang salah satu concern aku terhadap generasi muda masa kini. salah satunya, adalah minat generasi muda untuk membaca. Riset tentang minat membaca sedunia yang digagas oleh UNESCO, menyatakan kalau ternyata tingkat minat membaca di Indonesia berada di ranking 60 out of 61 countries.

peringkat2bnegara2bliterasi

Dilihat dari hasilnya, minat membaca di Indonesia memang cukup memprihatinkan.  Bahkan di antara negara-negara tetangga, kita berada di bawah Thailand (59), Malaysia (53), dan Singapura (36) sebagai negara dengan peringkat literasi tertinggi di Asia Tenggara. Rata- rata generasi muda di Indonesia hanya membaca 2-5 buku per tahun atau kurang dari itu, sementara kalau di luar negeri? Masyarakatnya rata-rata membaca 50 buku atau lebih per tahunnya. Ok, ga usah jau-jauh deh. Disini, di Melbourne aku sering banget liat orang baca buku di kendaraan umum, di taman, bahkan terkadang di area wisata juga ada yang asyik membaca buku. membaca buku seperti sudah menjadi suatu kebudayaan disini. Kalau di Indonesia, kapan yah bisa kayak gini? Generasi mudanya kebanyakan malas membaca.

Dampak dari rendahnya minat membaca juga merugikan untuk masyarakat Indonesia. Salah satunya, adalah generasi muda Indonesia menjadi berpikiran sempit dan mudah termakan issue-issue yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ga heran, kalau hoax bertebaran, dan banyak yang termakan oleh hoax terutama di social media. Kalau rendahnya minat membaca di kalangan generasi muda terus dibiarkan, ini berbahaya untuk ke depan-nya, karena masa depan bangsa Indonesia berada di tangan generasi muda. Dengan rendahnya minat membaca, tentu saja akan berpengaruh terhadap SDM. Apalagi dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), skill yang dibutuhkan generasi muda tidak hanya hardskill semata, tapi juga softskill. Persaingan di dunia kerja secara global akan semakin ketat, dan bisa saja Indonesia tersingkir di  persaingan internasional karena rendahnya kualitas SDM-nya. Penyebab rendahnya kualitas SDM Indonesia bukan hanya disebabkan oleh faktor minat membaca saja, tapi masih banyak faktor-faktor lain yang juga berpengaruh terhadap kualitas SDM Indonesia.

Sebenarnya,kalau kita telusuri bersama,  banyak penyebab rendahnya minat membaca di kalangan generasi muda. Kebanyakan, membaca tidak dianggap penting, sehingga generasi muda kurang memiliki motivasi dan kesadaran untuk membaca. selain itu, dengan kecanggihan teknologi malah membuat generasi muda masa kini lebih memilih untuk sibuk dengan gadget mereka dan melupakan pentingnya membaca. Dan, yang bikin aku heran terhadap generasi muda Indonesia kekinian adalah keengganan mereka untuk membaca.

Aku juga pernah melakukan riset untuk unit kuliah Professional Writing. Jadi waktu itu aku harus membuat penelitian dan melaporkan hasilnya dalam bentuk paper atau karya ilmiah. Kebetulan banget, tema untuk final paper ini bebas. Aku mengajukan tema minat baca di Indonesia untuk paper-ku. setelah mendapat persetujuan dosen, aku mulai melakukan penelitian : menyusun angket, cari literatur, dan masih banyak lagi. Berdasarkan hasil angket di paperku, hasil yang kudapatkan adalah generasi muda (terutama yang seumuran denganku) banyak yang gak suka baca karena gak sempat dan gak ada waktu. Aku juga pernah nanya sama beberapa temanku secara personal. pertanyaannya, “kenapa sih kalian ga suka baca?” rata-rata jawabannya “males. ga ada waktu juga buat baca.” itu yang paling banyak. Lah? generasi muda Indonesia masa kini banyak yang punya waktu buat nge-gym lah, ikut komunitas lah, ikut kursus dan pelatihan ini-itu, dan lain-lain. Tapi ga punya waktu untuk sekedar membaca? Dan kebanyakan dari mereka juga ngga mau diajak membaca, karena pengaruh lingkungan juga, mungkin? Entahlah. Aku sendiri juga bingung.

Nah, menurut aku, disinilah solusi dibutuhkan untuk meningkatkan minat baca generasi muda. Ini menjadi semacam “PR” kita bersama untuk menumbuhkan minat baca generasi muda Indonesia. Sebenarnya, banyak kok, yang bisa kita lakukan untuk mencari solusi dalam menumbuhkan minta baca generasi muda. Solusi yang aku maksud disini ada 2, dari dalam diri sendiri dan dari luar. Dari dalam dirimu sendiri, kamu bisa mulai untuk membaca setiap hari. Ga perlu lama, tapi paling tidak sekitar 10 menit per hari. Kamu bisa mulai dengan membaca tentang topik-topik yang kamu sukai. atau bisa juga kamu meminta rekomendasi buku dari teman-teman di sekitar kamu. Anggaplah membaca seperti sebuah kebutuhan, maka lama-lama kamu akan suka  membaca. Untuk solusi dari luar atau eksternal, bisa melalui program perpustakaan dan community empowerment (pemberdayaan komunitas) untuk komunitas pencinta buku terutama di Indonesia. Perpustakaan bisa membuat program-program menarik yang pada akhirnya akan membuat anak-anak muda mau mengunjungi dan betah membaca di perpustakaan. selain itu, dengan adanya social media yang berfokus pada buku seperti GoodReads akan bisa ikut menumbuhkan minat baca generasi muda Indonesia. Bahkan generasi muda pun bisa menjadi penggerak untuk memupuk minat baca. salah satunya, charity program dari PPIA Victoria (Persatuan Pelajar Indonesia Australia) negara bagian Victoria yang membuat project BUAB (Buku untuk Anak Bangsa) untuk membantu mereka yang membutuhkan dengan membuka donasi buku di acara Alun-Alun 2017. Aim atau tujuan dari charity program BUAB adalah menciptakan better education di Indonesia melalui sumbangan buku.

Selain itu, menurutku membaca tidak cukup dijadikan ajakan atau himbauan. Membaca harus menjadi kewajiban. Jika perlu, kembangkan  kurikulum pendidikan nasional berbasis membaca. Membangun kecintaan pada membaca bukanlah pekerjaan satu malam dan tanggung jawab sekolah saja. It takes a village! JK Rowling pernah mengatakan : “Kalau kamu belum suka membaca, kamu hanya belum menemukan buku yang tepat.”

Bangsa yang membaca akan lebih bijak, karena memilki banyak jendela untuk memandang masalah dari berbagai sudut. Bangsa yang membaca adalah bangsa yang mencari solusi dengan melihat ke dalam (inward looking) dan bukan sibuk berteriak menghujat pihak lain sebelum melihat kepada dirinya sendiri. Bangsa yang membaca adalah bangsa yang terstruktur cara berpikirnya, karena membaca buku fiksi maupun nonfiksi sama-sama menstimulasi kerja otak. Bangsa yang membaca adalah bangsa yang ‘tenang’, tidak grasak-grusuk.  Karena membaca membutuhkan ‘ruang tenang’ baik itu di perpustakaan, maupun di bis atau kereta komuter yang padat penumpang sekalipun. Bangsa yang membaca adalah bangsa yang memiliki kepekaan dan kesadaran. Kesadaran terhadap dirinya, kekuatan dan kelemahannya dan kepekaan terhadap sekelilingnya. Bangsa yang membaca tidak mudah menyebar hoax ke berbagai media sosial, tidak membuang waktu berdebat untuk hal yang tidak jelas dasarnya. Bangsa yang membaca memiliki lisan yang santun, runut dan kental karena merupakan hasil dari menghimpun, mengamati, merenungkan, dan merefleksikan apa yang dilihat, dan dirasakan. Buku adalah tentang peradaban. Hanya bangsa yang membaca yang memiliki karakter dan peradaban tinggi. Bangsa yang tidak membaca lambat laun akan tersingkir dari peradaban. Jadi, ngga salah guys, kalau dibilang bangsa yang merdeka adalah bangsa yang membaca.

Dengan membiasakan diri untuk membaca, kamu bisa menumbuhkan rasa ingin tahu tentang lingkungan sekitar. Rasa ingin tahu seperti ini yang penting menurutku. Kenapa? Karena dengan rasa ingin tahu yang berkembang, akan memicu generasi muda kita untuk terus belajar dan meng-upgrade diri dengan pengetahuan. Bahkan, siapa tahu kalau nanti di masa depan, generasi muda Indonesia bisa membuat sebuah inovasi yang akan mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional?
Who knows?

Tapi, sebelum itu, yuk kita bekali diri.
Caranya? upgrade diri kalian dengan rajin membaca. Setuju?

With Love,

Advertisements

19 thoughts on “Generasi Malas Membaca.

  1. So sad yah, ngeliat minat baca di Indonesia ternyata berada di ranking 60 out of 61 countries. Kalo menurut kaka,book club bisa gak sih menjadi sarana untuk meningkatkan minat baca??

    Like

  2. Benar sekali mbak, perlu inovasi untuk menumbuhkan kembali minat baca generasi sekarang. Mungkin bisa menyediakan buku bacaan di cafe2, qan anak zaman sekarang sering bangetkan nongkrong di Cafe. Aku kalau punya modal besar pengen buat cafe yang menyediakan berbagai buku bacaan. Biar orang2 pada mau untuk membaca buku. Salam kenal mbak, saya yelli blogger asal Aceh. Silahkan mampir ke rumahku yellsaints.com

    Like

  3. Sebenernya untuk menumbuhkan minat baca generasi muda, bisa melalui community empowerment alias pemberdayaan komunitas pencinta buku di Indonesia dan membuat program-program menarik yang membuat generasi muda mau berkunjung ke perpustakaan dan mempunyai minat untuk membaca.

    Like

  4. generasi indonesia emang kebanyakan malas baca sih… makanya perlu gerakan khusus untuk mengajak anak-anak dan remaja untuk mencintai buku. terus pengaruh didikan orangtua juga berpengaruh sih, ka…

    Like

    1. Ngga. Ini murni tulisan hasil pemikiran aku… dan aku gak pernah copy-paste dari manapun untuk menulis artikel di blog ini, karena murni semua tulisan disini adalah hasil pemikiran dan juga opini – opini aku sendiri.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s