Opinion

I am an Introvert.

Hey guys.
I was just browsing when I spotted this comment in my personal ask box by one of my readers :

Yes, I am an introvert. Dari kecil. Dulu, semua orang bingung, kok kalau orang ngumpul, aku akan minggir dari keramaian, atau ngga aku akan mencari spot dimana aku bisa membaca (atau melakukan apapun) sendiri tanpa ada yang mengganggu, walaupun di tengah keramaian. Awalnya aku di-diagnosis autis sama orang-orang di sekitarku. Dan semakin aku besar, aku mempelajari ilmu dasar psikologi & personality trait dimana aku baru mengetahui kalau ternyata…aku bukannya autis, tapi… aku introvert.

Aku yang sekarang, masih seorang introvert seperti aku dulu, masih lebih nyaman 3 hari nggak keluar rumah, masih suka males ngangkat telepon, masih suka menunda-nunda bales chat orang, dan aku masih tergolong dalam INTJ female. Untuk yang nggak tau apa itu INTJ, INTJ adalah salah satu dari 16 Myers-Brigg personality traits yang ada pada manusia dan membentuk kepribadian seseorang. FYI, cewek INTJ adalah yang paling rare. Di dunia ini cuma ada 1% dari kami. INTJ sendiri adalah salah satu personality trait yang paling jarang dan hanya terdapat 3% dari seluruh populasi di dunia. Dan hasilnya bisa diketahui dengan cara ambil Myers-Brigg personality test. I have taken the test, and my result was INTJ. Untuk link test-nya sendiri, bisa dibuka di sini. And you guys can view my result here, in case you didn’t believe that i am an INTJ.

Menjadi seorang INTJ yang bergelut di social media dan dunia maya secara umum adalah hal yang nggak mudah. At least buat aku. Tiap hari aku bertemu dengan berbagai macam kebodohan yang dilakukan orang di internet, such as asking obvious question to being a plain idiot and left me completely speechless. Stupidity is one of my biggest pet peeves. Just stupidity in any form. I got angry whenever I see people on the internet, especially Indonesians, who are mostly shallow and ignorant. Berita-berita hoax bisa jadi bahan berantem di Facebook, hal-hal nggak penting bisa jadi bahan omongan di Instagram, komen-komen nggak penting bisa aja dikomenin di YouTube. The struggle becomes more real because keeping my mouth shut all the time is the only choice I have. But if you see some things from me that you don’t quite understand or you think I’m too mean, too blunt, too arrogant, etc. It’s because of my personality trait.

Sampailah aku di momen di mana aku harus pindah ke Melbourne. Pindah negara dan pindah kota berarti berhadapan langsung dengan kultur berbeda, lingkungan baru, orang-orang baru,dan cara bersosialisasi yang baru. I did find some inspiring people, whom I like to have conversation with. Karena setiap ngobrol sama mereka aku belajar hal baru, obrolannya positif dan bermanfaat, dan yang pastinya ngobrolin hal-hal yang berguna dan berbobot.

Lalu, saat sudah disini, di Melbourne, aku jadi ingat omongan salah satu guruku di JIC dulu, Miss Sisca. Miss Sisca pernah ngomong kayak gini pas kita lagi di-briefing sebelum berangkat ke Australia : “transferring to university in Australia means you’ll be meeting new people, so you have to socialize and try finding friends from different cultures. don’t just socialize with your group of friends from Indonesia only.”

Teringat kata-kata Miss Sisca waktu briefing, I tried to open up and make friends with people from different cultures. I did really well… I went to some events and festivals alone. di sana aku kenalan sama orang-orang baru yang kebanyakan beda kultur. Bertemu dan berbaur dengan teman-teman baru yang berasal dari negara berbeda, seperti Turki, India, Malaysia, China, dan masih banyak lagi. Ini semua yang membuat aku semangat untuk bersosialisasi dan menambah teman. Aku juga jadi ngerti kalau aku nggak semata-mata susah making friends, tapi ternyata aku males kalau pertemanan-nya cuma begitu-begitu doang. Dan sekarang, lingkaran pertemananku meluas dan bertambah, tentunya.

Buktinya ketika aku ketemu teman-teman baru disini, yang bisa aku ajak ngobrol panjang dan berat dari A sampai Z, aku merasakan kepuasan dan kegembiraan yang mendalam karena akhirnya I can be myself when I’m with the right people. Aku selalu dapet hal-hal baru ketika bertukar pikiran dengan mereka, karena latar belakang kultur kami yang berbeda. Aku bisa mencoba untuk relate ke mereka karena mereka punya fokus berbeda denganku. Dan dari pertemanan ini, lingkaran pertemananku juga bertambah,tentunya. terutama sama teman-teman dekatku di kampus : Nisha, Gaby, Elena, Stephanie, Nadia, & Priya, yang dimana mereka adalah teman-teman kampusku yang berasal dari negara yang berbeda-beda. Dan aku senang bisa mengenal mereka. Anyway, ketika kalian melihat aku nyaman ngobrol dan bergaul dengan orang lain… Itu berarti aku sedang bersama orang-orang yang tepat 🙂

Your one and only,

Advertisements

3 thoughts on “I am an Introvert.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s