Opinion

Indonesia Damai.

Hey guys.
Hari ini aku mau ngomongin sesuatu nih.

udah beberapa lama, timeline Facebook & Twitter aku memanas. sebenernya udah lama sih, tapi lama-lama aku jadi kesel sendiri baca beritanya, baik di social media maupun di news websites. Aku hanya ingin mencoba purely thinking, memandang 2 issue yang sebenernya agak sensitif ini.

Pertama, semua diawali dengan si A yang bukan pada waktu dan tempatnya, menyinggung ayat dari agama lain. Mau dianalisa pake ilmu linguistik dari planet manapun menurutku si A ya emang salah. Dia di posisi di mana dia pemeluk agama Katolik (dan kebetulan minoritas), tapi bisa dengan mudahnya membicarakan hal yang bukan tentang agamanya. Dia bilangnya sih dia tau tentang Islam karena dia dulu sekolah di SD Islam. Menurut aku itu bukan alasan yang tepat. Apalagi sebagai umat Katolik, karena posisi kami adalah minoritas di Indonesia. Sadly, but very true. Terus imbas dari kejadian ini, aksi damai 411 dan 212. banyak yang ribut di social media mengenai ini. ribut antara yg pro & yg kontra, tentunya. Kedua, yang masih hangat diberitakan adalah kasus Universitas Kristen yang memasang image mahasiswi muslim di baliho promosinya, sampai menimbulkan kontroversi di kalangan muslim, terutama di social media. Yang mereka permasalahkan, kenapa harus foto mahasiswi muslim yang ditaruh di baliho promosinya, padahal itu universitas Kristen. Seharusnya itu semua nggak menjadi pemicu perdebatan yang ga perlu.

Tapi terlepas dari permasalahan agama dan segala keributan yang ada sekarang, ada satu yang aku sayangkan. Ini semua sebenernya sangat bisa dihindari. Gimana caranya? Cukup dengan saling menghargai. Aku Katolik, terus aku liat ada orang yang berbeda keyakinan ya aku-nya biasa-biasa aja. Orang lain mau ibadah ya silahkan aja. Nggak perlu dilarang-larang atau dipaksa buat udahan. Dengan begitu, aku sudah menunjukkan sebuah bentuk toleransi.

Dari semua ini aku sadar, terlihat sekali bagaimana orang Indonesia sangat terobsesi dengan urusan agama orang lain sampe sering lupa sebenernya esensi agama itu apa. Masih banyak yang ribut-ribut atas dasar agama. agama seharusnya menjadi tuntunan hidup. tuntunan untuk berperilaku dan bertindak, walaupun ajaran setiap agama berbeda, tapi aku percaya bahwa semua agama mengajarkan kebaikan.

Terus aku sadar, kalau menjadi seorang Katolik itu ga cukup hanya seminggu sekali ke gereja, doa novena, ikut kegiatan gerejadan aktif melayani dalam komunitas tapi yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan ajaran alkitab untuk menjaga diri dari permusuhan, toleransi terhadap agama lain & mengamalkan hukum cinta kasih dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan ada program dari gereja Katolik, terutama KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) yang mengusung tema 100% katolik & 100% Indonesia. dimana inti dari program ini adalah kita tetap menjalankan kewajiban kita sebagai seorang Katolik & menjaga toleransi. Toleransi itu bukan dengan menyama-nyamakan perbedaan, tapi dengan menganggap perbedaan itu sebagai hal yang biasa. perbedaan seharusnya dianggap sebagai sebuah keunikan untuk saling dihargai dan dihormati.

Yang gak semua orang mengerti, dasar agama Katolik itu hukum cinta kasih. Katolik itu ber-belas kasihan. Katolik itu saling mengampuni. Katolik itu kedamaian. Katolik itu menghargai setiap orang, terlepas apapun suku agama dan ras orang lain. Bahkan ada banyak ayat-ayat alkitab yang mengajarkan toleransi. salah satunya adalah Lukas 15:1 – 2, yang berbunyi ” Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” (Lukas 15 : 1-2). Ayat yang aku kutip menceritakan dimana Yesus dibenci oleh orang-orang Farisi & pemuka agama Yahudi hanya karena Yesus mau menerima, menoleransi, bahkan makan bersama dengan orang-orang berdosa yg banyak dikucilkan oleh masyarakat Yahudi di zaman itu. Ayat ini menjadi salah satu bukti kalau Katolik juga menjunjung tinggi yang namanya toleransi, terutama toleransi terhadap agama lain. Bukti lain dari ajaran Katolik tentang toleransi bisa dilihat dari dokumen resmi gereja Katolik. Contohnya, Gereja melaui Konsili Vatikan II dan  pernyataan Nostra Aetate, Lumen Gentium, dan Gaudium et Spes menyatakan sikap terhadap agama dan kepercayaan lain. semua dokumen dan pernyataan yang aku sebutkan di atas intinya Gereja Katolik memandang bahwa semua agama itu punya tujuan yang sama, yaitu Allah. Sikap gereja terhadap agama lain adalah mendukung terciptanya kerukunan dan persaudaraan sejati dalam kebersamaan dengan agama dan kepercayaan lain dengan cara menghormati agama dan kepercayaan lain sebagai bentuk toleransinya. Gereja yang pada dasarnya dan berprinsip bahwa cinta kasih dan keselamatan adalah menyeluruh untuk semua orang hendaklah membangun dialog dan relasi untuk bergandengan tangan, bekerja sama membangun kerajaan Allah, yaitu kerajaan damai sejahtera. Mengutip surat Paulus kepada Jemaat di Roma yang berbunyi “Sebab Karajaan Allah bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan suka cita…” (Rm 14:17) ini menunjukkan kalau gereja Katolik juga menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian dengan agama lain.

Belum lagi udah tahun 2016, kok masih banyak orang yang penasaran sama agama orang lain sih? Kalo dia katolik, kenapa? Terus, kalo dia hindu juga kenapa? Mungkin mereka dapet kepuasan sendiri kali ya, Padahal nggak ada gunanya alias gak penting untuk kehidupan mereka. Kalo ditegur alasannya pun terkadang bikin aku nepok jidat, “Hehehe maklum kak orang Indo suka kepo.” Nah kalian tau kalo kalian suka (dan sering) kepo? Bukannya dibuang, kepo malah dilestarikan.

Tapi emang dasarnya orang kita seneng sih, untuk ngomongin orang lain. Apalagi yang aku liat sekarang, di social media, terutama remaja lebih suka nyinyirin dan komentarin apapun yang lagi jadi trending topic. menurut aku alasannya balik lagi ke persoalan mereka takut buat beda, takut untuk dipandang gak sesuai sama tren yang lagi up, mereka takut kalo image kelakuan mereka jadi baik which is sekarang di Indonesia yang “keren” adalah mereka yang kelakuannya amburadul. Mungkin ini semua adalah salah satu efek dari social media kali, ya. Kita merasa punya hak aja buat mengekspresikan pendapat yang padahal sebenernya omongan tersebut nggak pantes untuk dilontarkan. Bahkan untuk hal-hal yang kiranya udah memasuki ranah privat kayak political preference atau mengenai agama. Dan attitude tersebut akhirnya terbawa ke dunia nyata.

Attitude “berbicara tapi tidak mau mendengar” dan “tidak menghargai orang lain”. Padahal kalau dipikir-pikir nggak sulit juga sih buat sama-sama menjaga toleransi dan perdamaian. Nggak usah ngomporin satu sama lain, nggak perlu merasa bener atau merasa salah, nggak usah ngomongin hal-hal yang sensitif yang kiranya bisa nimbulin keributan. Tapi mungkin kalau emang dasarnya mulutnya nggak bisa dijaga yaa susah, sih.
Semoga post aku hari ini bisa jadi bahan renungan buat kalian ya!

Love,

Advertisements

13 thoughts on “Indonesia Damai.

    1. kalo menurut aku, merugikan atau tidaknya, bergantung pada tingkat kekepo-an seseorang. kan ada orang yang udah kepo, udah. itu biasa. tapi yang bikin kesel adalah yang tingkat kepo-nya akut. nanya ini itu, seakan gada habisnya. yang kayak gitu sih bikin aku males, sekaligus ilfil juga.

      Like

  1. tentang toleransi perbedaan keyakinan di Indonesia menurut aku sebenernya banyak juga orang kita yang toleran dan biasa menghadapi perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat, aku yakin banyak dari kita yang punya temen beda suku maupun agama tapi tetep bisa baik-baik aja hubungannya. Cuma kadang-kadang hal ini diperuncing dengan debat kusir ga penting di sosmed dari orang asing yg gak tau muncul darimana melontarkan caci maki tidak bertanggung jawab. Jadi menurutku sebenernya kalo kita emang generasi berpendidikan apalagi sampe mengecap bangku kuliah yg orang-orangnya variatif banget ya ga perlulah ikut ngeramein sosmed dengan debat kusir ga bermakna. Yang penting kita fokus sama pada keyakinan kita dan gak ngusik keyakinan orang lain, tetep saling menghormati, saling kerja sama, saling tolong menolong buat Indonesia yg emang udah kodratnya berbeda-beda.

    Ya ngga, Vi?

    Like

  2. Ka, aku liat orang indo itu anti banget sama perbedaan, bukannya niat ngejelekin, tapi emang itu kenyataannya. Mereka yang mainstream bakalan ngikutin tren yang sebenernya banyak gak benernya. Sementara yang ngaku anti-mainstream pun bikin tren baru yang pada dasarnya ga ada bedanya sama kubu mainstream. Ga ada faedahnya, sampe aku sendiri muak ngeliatnya.

    Like

  3. Ka Viaaa! Aku suka loh kak baca teks yang isi nya opini kaka, terutama blog ini. Selalu aja ada hal yang buat aku mikir, apa yang terjadi, apa yang pantas dan enggak, dan semua yang gak pernah aku pikiran dan temui sebelumnya. Aku masih 18 tahun kak, walaupun masih ingusan gini pastinya aku gak terlalu paham banget sama politik tapi seenggaknya aku tahu apa yang sedang terjadi di indonesia dan tahu mana yang menurut aku pantas di lakukan, dan itu juga karena melalui tulisan ka Via. Melalui tulisan-tulisan kaka aku dapat kesadaran bahwa aku masih muda, mestinya harus berkarya, jadi generasi yang baik buat indonesia ke depannya. Ini bukan pencitraan loh kak hehehe. Tapi semenjak aku tahu ka Via, semenjak itu juga aku jadiin kaka role model buat aku. Aku bener2 terinspirasi dan termotivasi sama kecerdasan ka Via, sama pribadi ka Via, sama cerita perjuangan ka Via selama kuliah di Australia. thanks for inspiring me yah kaka!

    Like

  4. Lagi-lagu gue setuju sama pendapat kaka. Bukannya apa-apa, lama-lama gerah juga aku, setiap buka sosmed itu lagi, itu lagi.

    Kali ini aku mencoba mengambil simpulan tulisan kaka ini dari sudut pandangku. “People change” setiap manusia punya isi hati, otak, pola pikirnya serta pilihan dan jalan hidup yang pastinya berbeda-beda. Kita sebagai manusia enggak bisa menilai seseorang hanya dari satu sudut pandang doang. Aku pun punya perspektif yang berbeda dalam menilai sesuatu.

    “Willing to consider different ideas or opinions -> be open minded”, karena “setiap kesulitan/masalah serta perbedaan pendapat akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang”. Namun, bukan berarti setiap orang bisa dengan bebas nyinyir, sok sok ngeluarin uneg-uneg dan pendapat tapi enggak berfaedah. Karena bukannya menyelesaikan masalah tapi malah makin memperkeruh dan memancing masalah baru yang enggak ada habisnya. Semoga setiap langkah kaka, selalu dapat hikmahnya dan bermanfaat buat banyak orang dan kaka juga dapat feedback yang baik ke depannya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s