Cerpen · My Writings

Janji dalam Buku

Hai guys!
Hari ini, aku punya kejutan buat kalian.
Kejutannya, cerpen lagi!
Jadi sebenernya ini udah lama banget kutulis, dan sekarang aku post disini untuk kalian baca! Ini dia :

Janji Dalam Buku 
oleh Levina Tabita

Lina baru saja menapaki tangga kamarnya ketika tiba-tiba handphone-nya berbunyi lembut. Sejenak ia menghentikan langkahnya dan segera menekan tombol ok.
“Hallo?” sapanya sedikit malas. Bayangan kasur empuk dan semilir angin di kamarnya seakan-akan menari di kepalanya. Hampir 3 jam berturut-turut ia harus menyelesaikan kuliahnya. ‘Uh, andai saja kemarin aku bisa mengikuti kuliah-nya bos muda itu, pastilah aku tidak akan susah seperti ini, ‘ batinnya.

“Lin, kamu lagi dimana?” terdengar suara agak berat namun merdu. Lina sama sekali tidak bisa mengenali suara itu. Tapi ia tahu kalau itu suara cowok.
“Baru saja sampai di rumah. Ini siapa, ya? Kok nomer anda tidak ada dalam buku telpon saya?” balas Lina sewot.
“Oh sorry, aku lupa kalau aku punya hp baru.”
“Ok. Tapi, ini siapa ya?” tanya Lina gusar.
“Lintar. Fakultas sastra Indonesia. Angkatan 2005. Ingat? Kita dulu pernah ketemu waktu bedah buku sejarah Lombok di Museum seminggu lalu. Waktu itu kamu sempat beli buku itu dan aku yang gak kebagian.”
“Ya, aku ingat. Dan aku juga yang info no hp ini kan? Aku pernah janji juga ke kamu, ya?”
“Iya. Aku mau tahu kalau kamu sudah baca buku sejarah itu. Aku sudah coba cari di perpustakaan, tapi nihil. Buku itu langka.”
“Jadi, kamu menagih janjiku? Kebetulan, buku itu sudah kubaca habis dan masih kusimpan di meja belajarku.” Suara Lina mulai ramah.

***

Sontak pikirannya melompat pada kejadian empat hari yang lalu. Sore yang dingin setelah hujan deras selama 2 jam mengguyur Jalan Sriwijaya usai, dan hanya titik-titik air kecil yang sesekali tumpah dari langit, Lina berjingkat-jingkat menghindari tebaran becek di depan matanya. Sepercik air kotor mengenai ujung sandal selop coklat tuanya. Uh, ia mengeluh sendiri. Seandainya tadi ia memilih sandal jepit candy brown di rak sepatu dekat pintu kamarnya, mungkin saja gak akan seperti ini.

Langkahnya makin lambat ketika mulai menapaki tangga kecil gedung kesenian milik pemda yang sedikit tidak terawat. Bangunan Belanda kuno yang masih kokok dengan cat tembok terkelupas, halaman luas dipenuhi rumput liar dan lampu teras yang hanya menyala satu saja, perlahan membuai mata Lina. Suara-suara lirih terdengar dari balik pintu masuk gedung. Tampak beberapa mahasiswa fakultasnya lalu lalang menikmati sajian buku sejarah Indonesia. Memang tidak banyak yang dapat dicari di pameran ini. Selain koleksi dari panitia yang tidak lengkap, juga kesiapannya. Lihat saja, meja peraga untuk setiap daerah tidak tertata berdasarkan urutan provinsi. Acak-acakan. Sehingga cukup sulit juga mencari buku sejarah Lombok.

Belum lagi administrasi penerimaan tamu yang berantakan dan juga petugas dari setiap penerbit buku peserta pameran. Kebanyakan dari mereka hanya duduk manis tapi tidak mengerti apa yang tersaji di depannya.

Lina menarik buku setebal novel di depannya. Lombok di Masa Lalu. ‘Hm, judul yang samar,‘ batin Lina. Tapi, apa salahnya kalau kubaca sedikit, gumamnya.
“Mencari buku sejarah apa?” tanya ramah petugas stand. Badan tinggi semampai dengan potongan rambut sepunggung. Mata bulat ramah dan senyum manis menghias wajah bersihnya.

“Sejarah Lombok.” Jawab Lina singkat. Sepasang mata sipit dibalik kaca mata minusnya lincah menatapi tiap judul buku di meja. Ia juga tidak begitu yakin kalau buku yang dicarinya ada. Buku itu cukup langka didapat.
“Boleh tahu nama pengarangnya, mbak?”
“Hm… saya lihat-lihat dulu, mbak. Nama pengarangnya, saya gak hafal.” Jawab Lina.
“Atau mungkin nama penerbitnya? Mbak bisa lihat di daftar buku ini.” Petugas itu menyodorkan selembar kertas pada Lina. Sebaris tabel lengkap dengan judul, pengarang, tahun dan nama penerbit melayang-layang dimata Lina. Hm, cukup membantu juga.
“Kalau judul yang ini, masih ada?” tanya Lina riang. Seakan-akan telah mendapat lotere, hatinya bergejolak riang.
“Oh yang itu. Saya cek dulu, mbak.” Jawabnya cepat. Petugas itu berlalu dari sebelah meja depan untuk mencari buku yang dipesan Lina. Lima menit kemudian dia telah kembali dari balik lemari. Tangannya menggenggam buku berwarna biru tua.
“Beruntung sekali mbak. Kami hanya punya 1 buku ini. Sepertinya ini adalah cetakan terakhir. Kami juga belum tahu kapan cetakan berikutnya akan terbit. Buku ini memang langka.”
“Ya, saya tahu. Saya telah hampir 5 bulan mencari buku ini. Sampai-sampai memesan ke teman yang lagi keluar kota.” Sahut Lina. Syukurlah, jerit Lina dalam hati. Senyum tipisnya menyeruak perlahan.

Sekejap kemudian buku biru tua itu telah berada di tangan Lina. Suasana kaku antara dia dan penjaga stand itu pun mencair. Mereka bercakap-cakap seputar buku dan pengalaman si penjaga stand, sampai tiba-tiba pemuda jangkung berambut gondrong memecah percakapan.

“Maaf mbak, apa buku yang seperti itu masih ada?” tanyanya cepat. Lina dan penjaga stand itu serempak menoleh kearah pemuda itu. Celana jeans biru tua dan t-shirt putih membalut tubuh si pemuda itu. Cukup ganteng, juga.
“Sebentar ya mbak.” Pamit si penjaga stand pada Lina.
“Oh ya, saya bayar saja buku ini.” Sahut Lina dan berlalu ke stand lainnya. Mungkin saja ia mendapatkan buku-buku lain yang menarik. Lagi pula ia masih memiliki anggaran untuk itu.
“Buku yang mana, mas?” tanyanya ramah.
“Buku sejarah Lombok.” Jawab pemuda itu sambil menggaruk kepala belakangnya. Tampaknya ia sedang mengingat nama pengarang buku yang dicarinya.
“Mungkin mas bisa cari di daftar ini.”
“Oh. Tadi saya sempat lihat ada yang memegang buku itu. Kalau tidak salah mbak yang tadi itu. Ya, buku seperti itu yang saya cari.”
“Maaf mas, buku itu tinggal satu dan telah dibeli oleh mbak yang tadi. Kami belum tahu kira-kira kapan buku itu akan diterbitkan lagi.”
“Ah, terlambat!”
“Kami bisa bantu mas untuk mencarikannya di lain waktu. Mohon tinggalkan nomor yang bisa dihubungi atau alamat e-mail?” tawarnya lagi sambil menyodorkan kartu nama.
“Baiklah.”
“Mungkin mas mau cari buku yang lain?”
Tidak, terima kasih.” Jawabnya tak bersemangat. Pemuda itu berlalu ke stand yang lain. Hatinya sungguh kesal. Betapa tidak, buku itu telah dicarinya ke seluruh toko buku di Lombok. Ada beberapa bagian ia cari untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Aduh, bisa-bisa berantakan jadinya.
Dengan sedikit usaha, pemuda jangkung itu mendapati Lina di arena pameran. Hm, lincah juga gadis berkulit bersih itu. Kalau saja aku tidak mengingat kuncir ekor kuda gadis itu. Sedikit tinggi dengan hiasan pita coklat tua. Senada dengan sepatu yang ia kenakan.
“Maaf, boleh ganggu dikit.” Katanya dengan tersengal-sengal. Anak keringat mengalir didahi kanannya. Ruang pameran yang sempit dan kurang ventilasi menambah gerah tubuhnya.
Lina menghentikan langkahnya ketika pundak kiri tersentuh oleh tangan yang cukup keras.
“Boleh ngobrol bentar?” pintanya pada Lina.
“Boleh, ada yang bisa saya Bantu?” tanya Lina agak terburu-buru. ia sebenarnya ingin segera pulang untuk membaca buku sejarah itu. Rasa penasarannya yang menggunung tak bisa dibendung.
“Kalau kamu sudah selesai membaca buku itu, boleh kupinjam?”
“Untuk apa?”
“Ada beberapa bagian di buku itu yang menjadi sumber penelitianku. Ini tugas terakhir. Aku harus cepat-cepat menyelesaikannya.” Pintanya.
“Oh gitu.Terus gimana?”
“Boleh minta no hp-mu? Please jangan curiga apa-apa ke aku. Sungguh, ini untuk tugas terakhirku. Gak lebih.”
“Oke, demi tugas terakhirmu. Catat deh, 081933155646. Aku Lina.”
”Terima kasih. Aku Lintar. ” sambutnya riang. Sekejap kemudian, badan jangkung itu berlalu dari wajah Lina. Meninggalkan aroma citrus dan cedarwood.

***

Udara siang yang terik dan kering berhembus sadis ke wajah mungil Lina. Ia berkali-kali mengusap keringat didahinya. Perlahan, suara doa berkumandang diiringi khotbah pastor.Terdengar isak tangis wanita tua disampingnya. Dengan balutan busana serba hitam, bahu tuanya berkali-kali tersengal. Tangis yang ditahan sedari tadi tak dapat lagi dibendung. Kala jenazah itu memasuki liang lahat.
“Lintar!!!!” jerit wanita tua itu. “Mengapa kau pergi secepat itu, nak? ” jeritnya pilu.
Lina terpaku sejenak. Dilihatnya jenazah yang telah dibalut kain kafan perlahan menghilang dari wajahnya. Tanah basah sedikit demi sedikit menutupi lubang berukuran 1 x 2 meter itu. Bibirnya kelu. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Janji yang telah ia sepakati beberapa minggu yang lalu tidak dapat ditepatinya. Pertemuan itu belum terjadi namun, Lintar harus lebih dahulu menemui Sang Pencipta. Truk pengangkut sampah telah merenggut nyawanya ketika Ia berusaha menarik anak kecil yang terjatuh dari sepeda.
Buku sejarah Lombok yang ia janjikan pada Lintar masih ada dalam tasnya. Ia terpaku dan terpaku menatap batu nisan yang masih basah. Perlahan tangannya merogoh body pack hitam di samping kanan. Buku itu diletakannya perlahan.
“Maaf Lintar, buku ini tidak sempat kamu baca. Biarlah ia disini. Aku telah memenuhi janji ini. Semoga kau damai disisi-Nya. Amin.”

Tamat.

Nah itu dia cerpen-nya, gimana menurut kalian? Jadi, aku bikin ini udah lama banget, sekitar 5-6 tahun yang lalu.
Tulis pendapat kalian di comment box yah!
Ditunggu loh…

Salam sayang,

Advertisements

6 thoughts on “Janji dalam Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s