Motivation · Random Thoughts

Contentment

Kita sebagai manusia terbiasa untuk melihat sesuatu atau seseorang dari luarnya untuk bisa membuat kita merasa puas dan komplit, yang sebenarnya kepuasan itu sama sekali tidak di temukan dalam keadaan itu. Dimana kepuasan hanyalah dapat diperoleh di dalam hati dan diri kita. Kehidupan kita yang berada di dunia modern membuat kita merasa seperti ‘dipaksa’ untuk bisa meraih sesuatu yang lebih tinggi dan memperoleh sesuatu yang lebih. Sebagai orang yang modern, kita selalu merasa percaya kalau kepuasan datang dari mendapatkan sesuatu yang kita mau. Itu tidak seperti itu. Kepuasan tumbuh dari kapasitas kita untuk memediasi keinginan kita dengan “apa itu..”

Formula dasarnya adalah belajar untuk menerima “apa itu” daripada bersikeras bahwa hidup menjadi cara tertentu. Life is rarely the way we want it to be; it is just the way it is. Itu bukan berarti kalau kita menyerah begitu saja atau menjadi pasif. Kita sebagai manusia suka tidak menyadari ketika kita bisa menemukan kepuasan dari dalam itu adalah proses yang dinamik. Kita bisa mengibaratkan itu semua seperti dansa di antara keinginan dan kenyataan, apa yang kita mau dan apa yang kita dapat. Dan ini bukanlah suatu permasalahan besar. Bayangkan kita dua orang sedang berdansa, dimana gerakan-gerakan harus menjadi satu tarian yang menarik; rhythm dan respon diantara kedua yang bisa menunjukkan dimana salah satunya seperti memimpin tarian dan yang satunya mengikuti. Yang satu ke depan, yang satu ke belakang; dan mereka pun bergerak menjadi satu. Inilah bagaimana contoh bahwa setiap manusia bisa belajar berdansa dengan apa yang sudah diberikan. Terkadang kita harus memimpin jalan itu, lalu menegaskan keinginan kita, dan nasib pun akan mengikuti kita; dan begitu juga sebaliknya. Jelas, untuk bergerak dengan kelincahan dan karunia membutuhkan banyak latihan, tapi ingat, dari latihan itulah kita banyak mendapatkan pelajaran berharga.

Siapa di dunia ini yang tidak mau mendapatkan kepuasan? Dan, ditambah di kehidupan modern saat ini ada suatu epidemi ketidakpuasan. Apapun yang terjadi, apapun yang kita dapat, berapa banyak penghasilan yang kita dapat, semua tidak pernah terasa cukup. Selalu ingin sesuatu yang lebih, lebih, dan lebih dari yang sudah kita dapatkan sekarang. Dan itu semua karena kita sama sekali tidak sadar, kalai kepuasan itu tidak ada di ‘luar’. Kita tidak akan pernah menemukan kepuasan dari luar karena kepuasan itu tidak akan pernah didapatkan berdasarkan apa yang terjadi dan apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita. Dan terkadang momen-momen tertentu terjadi begitu cepat padahal saat itulah diri kita merasa seperti mendapatkan puncak dari kepuasan. Dan sering kali kita ingin mengulangin kepuasan itu, tapi tidak pernah bisa sama 100%. Karena sesungguhnya kepuasan itu tidak mudah untuk bisa dijaga.

We are pulled by desires and pushed by fears. Keinginan mendorong kita untuk memiliki, pergi untuk mendapatkan sesuatu, sementara kebencian mendorong kita untuk meninggalkan, pergi meninggalkan sesuatu. Dan disinilah kita bisa menemukan, bahwa melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang sudah kita lakukan sekarang bukanlah jawabannya. Kepuasan datang dari dalam diri kita. Apapun yang terjadi, balik lagi kepada diri kita, dan disinilah kita benar-benar mempertanyakan kepada diri sendiri, “apa tujuan dari semua yang telah kita lakukan?” “apa ini yang memang benar-benar bisa membuat kita merasa puas?”, dan pertanyaan – pertanyaan lain yang bisa saja bermunculan dalam benak kita. Banyak orang yang tidak ingin melepaskan sesuatu karena mereka menganggap itu sama saja seperti menyerah. But, think of a time when you followed a determined path, doing everything possible from a conscious standpoint to reach a goal, but you still feel short. Try to imagine how life might be if you were able to let go of a determined course of action and instead accept what life presents to you. Saat kita melangkah dan menabrak sebuah batu besar, coba untuk melangkah ke arah yang berbeda.

This happiness consisted of nothing else but the harmony of the few things around me with my own existence, a feeling of contentment and well-being that needed no changes and no intensification..” – Herman Hesse

Contentment can’t be found ‘out there’ – it is inside you. Contentment requires being who you are – no more and no less.Namun hal yang perlu diingat adalah, perasaan ketidak puasan yang kita miliki adalah hal yang wajar. Karena ketika tidak ada rasa ketidak puasan itu, maka kehidupan tidak akan berjalan seperti pasangan yang sedang berdansa – life as we know it, would stop flowing.You must keep your discontent -as well as your contentment – in good shape.

Manusia itu seperti kumpulan puzzle yang mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Kita memerlukan setiap pattern yang terdapat dan terbagi untuk mendirikan puzzle itu dan menjadikannya orang. Once again, contentment is not a matter of what you possess and don’t possess.

Whatever we are waiting for – peace of mind, contentment, grace, the inner awareness of simple abundance – it will surely come to us, but only when we are ready to receive it with an open and grateful heart.. – Sarah Ban Breathnach.

 

Love,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s