Cerpen · Daily Life · My Writings

Kupu-Kupu Kecil

Hai guys!
kalian apa kabar? Baik-baik aja kan?

karena kemaren banyak yang penasaran sama cerpenku yang pernah dimuat di majalah gerejaku waktu aku kelas 10 dan request pengen baca, jadinya hari ini aku mengabulkan request kalian untuk post cerpenku disini!

Kupu – Kupu Kecil
Oleh Levina Tabita

“Kecil mungil berwarna….warna-warni yang terangi alam… Sentuhan karya indah jika tergambar baik… Mata hati melihat kau sangat istimewa…Terbang melayang-layang hinggap di bunga-bunga…” Barry menatapku dengan lembut seraya bernyanyi Kupu-kupu-Melly Goeslaw.  Suara merdunya menggetarkan hatiku. Entah mengapa ia suka sekali menyanyikan lagu kupu-kupu-Melly Goeslaw untukku.
Dan selalu saja ia memanggilku dengan sebutan“Kupu-kupu kecilku”.Tangan Barry melingkar hangat di pinggangku. Ia masih menatapku, kali ini tatapannya sayu. Senyum Barry merekah manis di paras wajahnya yang tampan. Kedua bola matanya yang bening beradu pandang dengan mataku. Dia benar-benar dewa Yunaniku.

“Kupu-kupu kecilku,kamu tahu aku paling suka ngeliat kamu lagi ngapain?”Aku memutar kedua bola mataku.”Hmmm…lagi apa?”tanyaku balik. “Aku paling suka melihat kamu ketika kamu menari Bali…aku suka sekali melihatnya. Seperti kupu-kupu…mata kamu mengerling indah dan tajam, gerakan yang gemulai, membisu dalam kerupawanan yang anggun, dan selendang yang terikat di punggungmu itu seperti sayap yang akan membawamu terbang…melintasi langit. Kamu cantik sekali setiap kali membawakan tarian Bali.” “Gombal ah !” “Aku serius ! Kamu kan tahu sendiri, aku koleksi foto-foto kamu saat menari Bali. Aku suka sekali…aku ingin selalu melihat tarian indah kamu itu…”
“Kalau begitu, saat aku ulang tahun nanti, aku akan mempersembahkan tarian Bali untuk kamu…” Dua hari lagi aku berulang tahun yang ke 15. Aku akan menarikannya untukmu Barry. Di hari ulang tahunku yang kupikir akan menjadi moment yang paling indah,ternyata adalah sebuah moment terburuk di sepanjang hidupku. Kenapa kamu memilih hari spesial itu untuk pergi meninggalkanku…? Kenapa kamu bingkiskan luka untuk kado ulang tahunku? Tuhan…bebaskan aku dari penjara luka ini…
Arina terjaga dari mimpi buruknya. Sesak di dada membuat nafasnya tercekat. Kenangan pahit itu selalu menghantui malam-malam Arina, membuat ia kesal setiap kali terbangun. ”lagi-lagi mimpi itu…” batin Arina dengan penuh kebencian. Sekonyong-konyong pintu kamar Arina terbuka. Sosok cantik keibuan berdiri di ambang pintu. “Bisa ketok pintu dulu gak sih?”ujar Arina kasar. Wanita paruh baya itu mengulum senyumnya. seperti biasa wanita itu selalu bersikap sabar pada Arina-putri semata wayangnya. “Maaf ya sayang mama lupa. Keluar yuk kita sarapan ! Dari tadi malem kamu kan belum makan.”
Arina tak mengindahkan ucapan mamanya. Ia melirik jam di HP-nya,pukul 08.00 pagi membuat Arina langsung beranjak dari tempat tidur nya dengan panik. Ia menyambar handuk hendak bergegas mandi. “Kenapa mama gak bangunin aku sih ? Mama kan tahu hari ini aku ada ujian peningkatan sabuk karate ! Aku tahu kalo mama gak suka aku ikut karate,tapi jangan kayak gini donk ma !”omel Arina. masih dengan kesabaran sang Mama,”Sayang,mama gak tega bangunin kamu. Semaleman badan kamu demam.Kamu kan lagi gak fit, ndak usah ikut ujiannya dulu ya cah ayu. Mama takut kamu kenapa-napa. Kamu ini perempuan, mbok ya ndak usah neko-neko ikut karate segala. Mama lebih suka melihat kamu nari Bali. ” “Stop ! Stop ! Arina udah bilang Arina benci nari Bali ! Dan aku nggak akan pernah nari Bali lagi ! Aku berhak menentukan yang aku mau. Masalah kondisi aku, Arina gak serapuh yang mama pikir ! Jadi gak usah manjain aku deh !” “Arina sampai kapan kamu marah-marah seperti ini ? Mama tahu ini bukan kamu nak. Mama merindukan Arina yang dulu…” Batin wanita itu sedih.

* * *

Luka yang Barry torehkan dua tahun yang lalu membuat Arina kehilangan dirinya. Ia marah terhadap apa yang terjadi di dirinya. Kemarahan di hati Arina merubah dunianya yang indah, menjadikannya sebuah dunia yang penuh dengan pandangan sinisme yang lekat. Arina memang tetap berdiri tegar setelah ditinggalkan Barry. Namun ketegaran yang dibangun dengan sinisme hanya akan membuat hatinya digerogoti luka terus-menerus,dan tidak akan pernah bahagia. Sudah lama Arina pergi meninggalkan dirinya yang dulu. Arina yang lembut, baik, ceria dan tidak temperamen tinggi…tertinggal oleh dimensi waktu.
Arina membuka matanya. ia melihat di sekelilingnya berputar-putar. Kepalanya pening sekali.Tubuh Arina terasa berat. Isi perutnya bergejolak hebat, mengguncang ulu hatinya. Lambung Arina serasa dikerat-kerat. Lidahnya pahit.Aroma rumah sakit menusuk hidung Arina. Arina mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Didapati wajah mamanya tersenyum lega melihat putrinya tersadar. Akal sehat Arina mencoba mengingat sesuatu. Ya Arina ingat betul, ketika ujian karate, Arina tak sempat mengisi perutnya dengan nasi.  Ia hanya mengganjalnya dengan coklat dan menggilasnya dengan soft-drink. Alhasil setiba dirinya di rumah Arina muntah-muntah, dan kemudian tubuhnya tumbang.
Arina merasakan sentuhan hangat menggenggam tangannya yang lemah. “Anak mama kok bisa sakit sih? Ini akibatnya kalo gak teratur makannya…”Arina tersenyum tipis melihat wajah mamanya yang selalu saja tersenyum padanya. “Sayang, mama tahu apa yang bikin kamu jadi berubah.Tapi sampe kapan kamu menyiksa diri kamu terus…?” “Arina lelah ma…Arina sudah lelah…” “Kalau kamu sadar sudah lelah, berhentilah berlari. Tegar itu bukan berarti harus membenci hal-hal yang membuat kamu teringat pada Barry. Itu hanya akan melukaimu saja sayang. Jangan membenci kehidupanmu untuk meredam kesedihan kamu. Rasanya bodoh sekali kalau kita membenci permasalahan-permasalahan yang sudah menjadi bagiaan dari kehidupan. Kamu harus menghadapinya, kamu gak boleh lari dari ingatan atas pengalaman pahit. Semakin pahit peristiwa yang pernah kita alami,maka semakin jagoan kita di kemudian hari. Relakan kepergian Barry nak… Belajarlah menerima kehilangan dengan ikhlas.”
Arina menghambur ke dalam pelukan mamanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Tangisan yang dulu ia tahan untuk tidak terjatuh setetes pun. Kini meledak dalam dekapan seorang ibu… “Maafin Arina ma… Arina pikir dengan merubah diri Arina adalah cara yang tepat untuk menghilangkan rasa sakit karena ditinggal Barry. Selama ini Arina udah sok tangguh…padahal Arina rapuh ma…” Mama mengusap-usap punggung Arina dengan sayang.”Arina, sudah saatnya kamu menyelesaikan kesedihan di hati kamu. Barry sudah pergi… dan dia tidak akan kembali lagi. Dia hanya kenangan. Sementara kamu? Kamu masih memiliki kehidupan yang indah jika kamu mau membuka mata. Masih ada mimpi-mimpi masa muda yang harus kamu raih. Jangan berhenti melangkah, karena dunia tetap berputar. Selalu ada banyak pengganti dari rasa kehilangan. Sebenarnya,kalau saja kamu mau sadari, Tuhan selalu memberikan kamu kebahagiaan.Tapi kamu selalu menolak kebahagiaan yang datang dengan sikap sinis kamu. Kamu selalu saja membatasi diri kamu dengan dunia luar, menarik diri dari pergaulan, berubah jadi Arina yang pemurung dan galak. Sayang…Mama rindu Arina yang dulu, Arina yang ceria, Arina yang murah senyum, Arina yang penuh semangat, Arina yang gak pernah marah-marah, Arina yang suka menari Bali. Kembalilah Nak… jadi dirimu sendiri. Kalau dunia melukaimu,jangan merubah apa yang sudah tercipta indah di hatimu. Arina, jangan pergi lagi ya nak, karena dunia merindukan kamu yang dulu.”
Mama menghapus air mata di wajah putrinya yang masih tampak pucat. Arina tersenyum, senyuman yang sama seperti dulu lagi. “Mama,maafkan Arina ya…Arina udah bikin mama sedih…Arina janji Ma…Arina gak akan pergi kemana-mana lagi…Arina akan kembali jadi diri Arina lagi.” Kali ini bukan Barry lagi yang menyanyikan lagu kupu-kupu—Melly Goeslaw, kali ini Mama yang menyanyikan lagu kesukaan Barry. Kehebatan cinta seorang ibu terhadap anaknya tak pernah terkalahkan oleh apapun di dunia ini. “Kupu-kupu jangan pergi…Terbang dan tetaplah disini, bunga-bunga menantimu rindu warna indah dunia…Anak kecil tersenyum manis pandang tarianmu indah, Kupu-kupu jangan pergi…”

Tamat.

Nah, ini dia cerpennya…
gimana menurut kalian, bagus ngga?
Jangan lupa commentnya yaa..
See u later!

Text_divider_long_43

Advertisements

3 thoughts on “Kupu-Kupu Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s